"Tuan, Aidan menunggu di ruang kerja. Katanya Tuan yang minta." Damian mengangguk. Dia melangkah ke koridor menuju ruang kerja yang berada di ujung ruangan. Pintu ruang kerja terbuka. Aidan duduk di kursi depan meja, punggung tegak, kedua tangan di pangkuan. Wajahnya datar, tidak menunjukkan rasa takut atau bersalah. Hanya menunggu. Damian berjalan mengelilingi meja, duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap putranya lekat. Matanya menyipit melihat luka di bibirnya. "Kenapa berkelahi? Daddy sudah bilang, jangan cari masalah di sekolah." Aidan menunduk sesaat, lalu mengangkat wajah. "Maaf. Ini nggak akan terjadi lagi." "Kamu yakin?" Anggukan pelan. Tapi Damian tidak puas dengan anggukan. Ada hal lain yang lebih penting. "Lalu ...." Damian menyandarkan siku di meja, kedua tangannya bert

