Aidan akhirnya mengangkat wajah. Matanya tajam menatap ayahnya. "Izin sama siapa, Dad?" Suaranya meninggi sedikit. "Daddy nggak ada di rumah. Nggak peduli aku pulang tepat atau telat." Ia menjeda, lalu menambahkan dengan nada sengit, "Semua sama aja." Audrey, yang sedari tadi diam, melirik ke arah adiknya. Tangannya masih memegang sendok. "Kamu kan bisa izin ke aku." Aidan mendengus. "Yang penting aku pulang ke rumah." Ia kembali ke piringnya, menyendok nasi dengan gerakan kasar. Damian menatap putranya. Dadanya sesak. "Apa kamu berniat nggak pulang, Nak?" Aidan berhenti mengunyah. Ia menelan, lalu menatap ayahnya dengan tatapan penuh emosi. "Di rumah nggak enak, Dad. Sepi." Suaranya bergetar. "Kamu kan bisa ajak main Suri." Audrey mencoba lagi, nadanya memelas. Aidan meledak. Ia mem

