Dylan membuka matanya perlahan. Ada suara dari dapur, dapur yang hampir tidak pernah ia pakai, mengalun pelan, suara spatula mengenai wajan, suara minyak yang mendesis. Ia tidak berpikir apa-apa, menarik selimut, dan hendak kembali memejamkan mata menikmati sisa tidur di akhir pekan yang cerah. Tapi kemudian ia ingat. Ia tidak sendirian. Dylan membuka mata lagi, kali ini lebih lebar. Ia bangkit dari ranjang, mengambil kaus putih dari lemari, dan mengenakannya sebelum keluar kamar. Pintu terbuka, langkahnya pelan menuju ruang tamu, dan dari sana ia bisa melihat dapur. Bella berdiri di depan kompor. Kaus longgar, rambut diikat asal, kaki telanjang. Ia sedang membalik telur mata sapi, sesekali menyesuaikan api. Di sampingnya, sosis sudah menghitam di pinggirnya. "Apa yang kau lakukan?" Su

