Tangannya mengepal di atas meja. Rahangnya mengeras. Tidak akan ada kesepakatan lagi. Tidak akan ada uang lagi. Hanya jeruji besi dan waktu yang panjang untuk merenung. Ponsel di tangannya bergetar, pesan dari Abby. Wajahnya sedikit melunak. Ia membuka pesan itu, membaca cepat, lalu mengetik balasan. Tapi di kepalanya, kata-kata Irwan masih bergema. Dan di hatinya, satu tekad sudah mengeras, melindungi Abby dan Suri, apa pun yang terjadi. *** Sore itu, rumah kecil Abby mendadak ramai. Sebuah truk berpendingin berhenti tepat di depan halaman, mesinnya menderu pelan sebelum mati. Dua petugas berseragam biru turun, membuka bak belakang, dan mulai menurunkan perabotan satu per satu. Abby berdiri di teras, tangannya bertumpu di pinggul, matanya membelalak melihat kasur besar yang diangkat

