Cucu Luar Takizaki.

949 Words
Ranu Raksadipura adalah putra dari Jayne Takizaki—saudara kembar Jayden—dan Reno Raksadipura, seorang konglomerat logistik yang dikenal tak kenal ampun. Meskipun Ranu membawa darah Takizaki di nadinya, bagi Zakiyah, dia tetaplah seorang Raksadipura yang haus akan pengakuan dan memiliki potensi besar untuk mengudeta posisi Lewis jika diberi sedikit saja celah. ​"Ranu?" Zakiyah mengulangi nama itu dengan nada yang sangat tajam, hampir menyerupai pekikan. "Kamu gila, Lewis? Kamu ingin memberikan kunci gerbang kerajaan ini kepada orang luar? Kamu ingin memberikan kesempatan pada keluarga Raksadipura untuk mencampuri urusan internal Takizaki? Tidak. Mama tidak akan pernah mengizinkan hal itu terjadi!" ​"Ranu adalah sepupuku, Ma. Dia dididik dengan keras oleh Aunty Jayne untuk memahami setiap inci dunia bisnis manufaktur dan logistik. Dia baru saja menyelesaikan restrukturisasi besar-besaran di Singapura dan hasilnya jauh melampaui target tahunan mereka," Lewis menjelaskan dengan nada yang sangat mekanis, seolah sedang membaca laporan profil eksekutif. "Dia agresif, dia licin dalam negosiasi, dan yang paling penting, dia sedang mencari panggung yang lebih besar untuk membuktikan bahwa dia lebih dari sekadar bayang-bayang ayahnya. Berikan dia jabatan Direktur Operasional sementara. Biarkan dia menghadapi dewan direksi. Dia akan sangat senang melakukan pekerjaan itu karena itu memberinya legitimasi di mata keluarga besar Takizaki." ​Zakiyah menggelengkan kepalanya dengan kuat, rasa tidak sukanya terhadap keluarga Jayne seolah meluap ke permukaan. "Ini bukan soal bakat atau hasil kerja, Lewis! Ini soal kemurnian kepemimpinan. Mama hanya ingin darah daging aslinya yang memimpin—kamu, putra tunggal Jayden Morgan Takizaki. Ranu mungkin sepupumu, tapi dia memiliki agenda pribadinya sendiri. Jayne memang Takizaki tapi Ranu bukan, dia cucu luar keluarga Takizaki, dan memberikan Ranu akses ke kantor pusat sama saja dengan menaruh belati di punggung kita sendiri. Kamu ingin menggunakan dia sebagai tameng agar kamu bisa terus bersantai di kampus, tanpa peduli bahwa kamu sedang menyerahkan hak sulungmu pada orang lain!" ​"Aku tidak sedang menyerahkan apa pun, Ma," balas Lewis dengan nada yang mulai kehilangan kesabaran. "Aku hanya memberikan solusi transisi. Aku tidak akan membiarkan Ranu menyentuh kebijakan strategis jangka panjang, tapi untuk urusan operasional harian yang menurut Mama sangat mendesak itu, dia adalah mesin yang sempurna. Jika Mama terus memaksaku, Mama tidak akan mendapatkan apa pun selain penolakan yang lebih keras. Tapi jika Mama menerima Ranu, Mama mendapatkan kepastian bisnis, dan aku mendapatkan ruang gerakku kembali." ​Jayden akhirnya bersuara, suaranya yang berat dan berwibawa menenangkan kepanikan Zakiyah untuk sejenak. "Lewis benar soal satu hal, Kiya. Ranu memang agresif. Dia memiliki insting predator yang mirip dengan ayahnya. Membiarkannya mengelola operasional sementara bisa menjadi langkah cerdik untuk melihat sejauh mana loyalitas keluarga Jayne, sekaligus memberikan tekanan pada dewan direksi bahwa kita memiliki 'cadangan' yang siap menggigit kapan saja. Itu juga akan membuat Lewis merasa tidak terlalu tercekik." ​Zakiyah menoleh ke arah suaminya dengan tatapan dikhianati. "Mas, bagaimana kamu bisa mendukung ide ini? Kamu tahu betapa ambisiusnya Reno dulu! Jika Ranu masuk ke kantor pusat, dia tidak akan mau keluar lagi. Dia akan menanamkan orang-orangnya di sana, dia akan membuat jaringan yang sulit kita bongkar nanti. Kamu ingin mengorbankan masa depan Lewis hanya demi ketenangan pagi ini?" ​"Aku tidak mengorbankan apa pun," jawab Jayden tenang, matanya menatap Lewis seolah sedang menantang putranya. "Jika Lewis memang sehebat yang aku pikirkan, dia tidak akan takut pada Ranu. Seorang raja tidak akan kehilangan takhtanya hanya karena dia membiarkan seorang jenderal menjaga perbatasan. Jika Lewis takut posisinya diambil alih oleh Ranu, maka mungkin dia memang tidak layak memimpin Takizaki sejak awal." ​Kata-kata Jayden terasa seperti cambukan bagi Lewis, namun ia tetap menjaga wajah datarnya. "Aku tidak takut pada Ranu, Pa. Aku hanya tidak peduli pada kursinya untuk saat ini. Aku punya urusan lain yang lebih penting." "Urusan apa, Lewis? Apa obsesi konyolmu pada dunia kampus itu jauh lebih penting daripada masa depan warisanmu?" Zakiyah kembali menyambar, suaranya serak karena frustrasi yang memuncak. Matanya menatap Lewis dengan tajam, mencoba mencari kejujuran di balik wajah putranya yang kaku. "Mama tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Sikapmu sejak semalam, ponsel yang mati, dan keras kepalamu hari ini ... kamu sedang mengulur waktu untuk seseorang di luar sana, bukan? Siapa pun itu, jangan pernah berpikir dia bisa menggantikan posisi Takizaki Corp di hidupmu. Kamu memalukan jika harus menukar tahtamu demi gangguan-gangguan kecil di universitas!" ​Lewis berdiri tegak sepenuhnya, auranya kini berubah menjadi sangat berbahaya dan dingin. Meskipun Zakiyah tidak menyebut nama, tuduhan ibunya tentang "seseorang" atau "gangguan kecil" tetap memicu sesuatu yang gelap di dalam dadanya—sebuah insting protektif yang bahkan tidak ia sadari sebelumnya telah tertuju pada Kairi. ​"Jangan pernah mencoba menebak-nebak apa yang kulakukan di luar rumah ini, Ma," jawab Lewis dengan nada yang sangat rendah, hampir menyerupai ancaman yang tersamar. "Dan jangan pernah mencampuri urusan pribadiku dengan asumsi-asumsi Mama yang tidak berdasar. Ranu akan datang menemui Papa besok siang untuk membicarakan kontrak operasionalnya. Keputusan ini sudah final dan aku tidak menerima negosiasi lagi. Aku berangkat sekarang." ​Lewis melangkah keluar dari ruang makan tanpa menoleh lagi. Suara langkah sepatunya yang berat bergema di lorong marmer yang sunyi, meninggalkan Zakiyah yang masih terpaku dalam kemarahannya. Namun, begitu ia masuk ke dalam kabin mobilnya yang kedap suara, topeng ketenangannya mulai retak. ​Sepanjang perjalanan membelah kemacetan Jakarta yang masih basah, fokus Lewis benar-benar hancur. Ia terus-menerus melirik ke kursi penumpang di sampingnya, seolah-olah ia masih bisa melihat sosok mungil Kairi yang menggigil hebat di sana semalam. Bayangan bibir gadis itu yang membiru karena kedinginan dan bagaimana jas wolnya membungkus tubuh rapuh itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ada rasa tidak sabar yang menggelisahkan; ia ingin segera sampai di kampus, bukan untuk mengajar, melainkan untuk memastikan apakah Kairi Takemi datang dengan kondisi sehat, atau apakah ia harus memberikan "hukuman" karena gadis itu membiarkan dirinya jatuh sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD