Aura Sang Alpha

978 Words
Langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar bergema dari arah balkon lantai dua yang menghadap langsung ke ruang tamu utama. Di sana, di bawah temaram lampu lorong yang terbuat dari kristal amber, berdiri sosok Jayden Morgan Takizaki. Meskipun usianya sudah memasuki kepala lima, aura kepemimpinan yang ia miliki tidak pernah pudar, justru semakin matang dan mengintimidasi layaknya seekor singa tua yang masih menguasai wilayahnya dengan taring yang tajam. Jayden mengenakan jubah tidur sutra berwarna hitam dengan sulaman benang emas di bagian kerahnya, sebuah pakaian santai yang entah bagaimana tetap terlihat seperti seragam perang di tubuhnya yang masih tegap dan atletis. Jayden memperhatikan istrinya, Zakiyah, dari ketinggian itu selama beberapa saat. Matanya yang tajam, yang telah melewati ribuan negosiasi bisnis berisiko tinggi dan konflik berdarah di masa muda, kini menatap wanita yang sangat ia puja itu dengan campuran rasa kasih dan sedikit kejengkelan yang lembut. Ia melihat bagaimana Zakiyah meremas tangannya sendiri, mondar-mandir di atas karpet Persia seolah-olah sedang mencari jawaban atas kekhawatirannya yang tak berujung. "Kiya," suara Jayden menggelegar rendah, memenuhi ruangan yang luas itu dengan otoritas yang tenang. Zakiyah tersentak kecil, kepalanya mendongak menatap suaminya. "Mas? Kenapa kamu belum tidur? Aku membangunkanmu?" Jayden mulai menuruni tangga melingkar itu dengan gerakan yang santai namun penuh tenaga. Setiap langkahnya seolah memberikan tekanan pada atmosfer di ruangan tersebut. "Bagaimana aku bisa tidur jika aku mendengar suara langkah kakimu yang tidak berhenti sejak satu jam yang lalu? Kau membuat lantai marmer ini aus jika terus mondar-mandir seperti itu, Sayang." Jayden sampai di hadapan Zakiyah. Ia jauh lebih tinggi dari istrinya, membuat Zakiyah harus sedikit mendongak. Jayden meletakkan kedua tangannya yang besar dan hangat di bahu Zakiyah, memberikan remasan lembut yang mencoba menyalurkan ketenangan. Namun, Zakiyah justru meraih lengan jubah Jayden dengan panik. "Lewis belum pulang, Mas! Badainya semakin parah, dan ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali. Kamu tahu sendiri bagaimana jalanan Jakarta kalau sudah banjir seperti ini. Bagaimana kalau dia ...." "Berhenti, Zakiyah," sela Jayden, nadanya tenang namun tidak bisa dibantah. Ia menatap langsung ke dalam mata istrinya yang berkaca-kaca. "Berhenti bersikap berlebihan. Putra kita bukan lagi bocah berusia lima tahun yang akan menangis jika tersesat di pusat perbelanjaan. Dia adalah Lewis Jaydenson Takizaki. Dia memiliki darahku mengalir di nadinya. Jika badai ini tidak bisa menghancurkan gedung-gedung Takizaki, maka badai ini juga tidak akan bisa menyentuh sehelai pun rambut di kepala putra kita." Zakiyah menghela napas panjang, mencoba meredakan debaran jantungnya. "Tapi dia satu-satunya putra kita, Mas. Kamu tidak pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi ibu yang selalu dihantui ketakutan akan keselamatan anaknya." Jayden menarik Zakiyah ke dalam pelukannya, melingkarkan lengannya yang kokoh di sekeliling tubuh mungil istrinya itu. Ia mencium puncak kepala Zakiyah dengan lembut, aroma lavender dari rambut istrinya meredakan sedikit ketegangan yang ia rasakan. "Aku mengerti, lebih dari siapa pun. Tapi kamu harus belajar untuk memberinya ruang. Lewis punya dunianya sendiri yang tidak bisa kita ganggu. Dia memiliki sisi gelap dan rahasianya sendiri, sama seperti aku dulu sebelum kamu menjinakkanku." Jayden melepaskan pelukannya sedikit, memegang dagu Zakiyah agar mereka saling bertatapan. Ada senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan muncul di sudut bibirnya. "Lewis mungkin sedang terjebak di suatu tempat, atau mungkin dia sedang memiliki urusan yang tidak ingin ia bagi dengan ibunya yang terlalu protektif ini. Dia pria dewasa, Kiya. Dia butuh tantangan, dia butuh sedikit bahaya untuk tetap merasa hidup. Biarkan dia menghadapi badainya sendiri." Zakiyah mendengus pelan, meskipun ia mulai merasa lebih tenang karena kehadiran Jayden yang dominan. "Kamu selalu membelanya. Kamu selalu bilang dia butuh ruang, padahal aku hanya ingin memastikan dia makan malam dengan benar dan tidak sakit." "Dan dia akan pulang, dia akan makan, dan dia mungkin akan mengabaikan omelanmu seperti biasa," Jayden terkekeh rendah, suaranya yang serak memberikan getaran yang menenangkan di d**a Zakiyah. "Lewis tidak bisa diganggu jika dia sedang menginginkan sesuatu. Aku mengenalnya. Jika dia belum pulang, itu artinya dia sedang mengurus sesuatu yang menurutnya lebih penting daripada sekadar menghindari hujan. Sekarang, kembalilah ke kamar. Jika kamu terus di sini, kamu hanya akan jatuh sakit karena cemas, dan aku tidak mau mengurus dua orang sakit sekaligus besok pagi." Interaksi itu menunjukkan dinamika unik antara sang Alpha dan pasangannya. Jayden adalah tembok yang kokoh, sementara Zakiyah adalah emosi yang mengalir. Jayden tahu benar bahwa putranya mewarisi sifat posesif dan obsesifnya. Ia tahu bahwa Lewis tidak sesederhana yang Zakiyah pikirkan. Di balik wajah dingin dan disiplin dosen itu, Jayden bisa mencium aroma gairah yang sama dengan yang ia miliki dulu—gairah liar yang hanya akan muncul saat bertemu dengan wanita yang tepat. Jayden menuntun Zakiyah kembali menuju tangga. Ia memastikan istrinya merasa aman dalam perlindungannya. Sebelum mereka naik, Jayden melirik sekali lagi ke arah pintu utama mansion. Matanya menyipit, seolah sedang berkomunikasi dengan kegelapan di luar sana. Ia tahu Lewis sedang melakukan sesuatu yang besar, sesuatu yang mungkin akan mengubah arah keluarga Takizaki selamanya, namun Jayden tidak akan mengatakannya pada Zakiyah. Ia akan membiarkan Lewis memainkan permainannya sendiri, asalkan tidak menghancurkan nama besar yang telah ia bangun dengan susah payah. Aura sang Alpha di ruangan itu perlahan meredup seiring dengan langkah pasangan itu yang menghilang di koridor atas. Mansion Takizaki kembali sunyi, menanti kepulangan sang pangeran yang kini tengah berjuang melawan gairahnya sendiri di belahan kota yang lain. Jayden menutup pintu kamar mereka dengan rapat, mengunci dunia luar dari ketenangan pribadinya bersama Zakiyah, sementara di kejauhan, lampu mobil Rolls Royce Lewis mulai terlihat mendekati gerbang utama, menandakan bahwa sang pewaris telah kembali membawa benih obsesi yang siap tumbuh menjadi badai baru di dalam rumah ini. Jayden merebahkan diri di samping Zakiyah, tangannya masih memeluk istrinya dengan protektif. Ia menatap langit-langit kamar, mendengarkan suara hujan yang mulai mereda. Ia tersenyum tipis, membayangkan apa yang sedang dilakukan putranya. "Jadilah pria sejati, Lewis. Ambil apa yang kamu mau, tapi jangan pernah biarkan itu menghancurkanmu," gumamnya dalam hati sebelum akhirnya memejamkan mata, membiarkan aura Alpha-nya beristirahat sejenak di balik kehangatan rumah tangga yang ia cintai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD