Sarapan yang Tegang.

1112 Words
​Sinar matahari pagi yang pucat berusaha keras menembus sisa-sisa awan kelabu yang masih menggantung rendah di cakrawala Jakarta pasca badai hebat semalam. Cahaya itu jatuh melalui jendela-jendela kaca patri setinggi plafon di ruang makan formal Mansion Takizaki, memantul pada permukaan meja panjang yang terbuat dari kayu jati solid dengan lapisan high-gloss yang sempurna, menciptakan kilauan yang menyakitkan mata bagi siapa pun yang tidak memiliki hati sekeras baja. Di atas meja itu, porselen-porselen halus bermotif emas dari Meissen tertata dengan simetri yang kaku dan matematis, seolah-olah setiap letak sendok dan garpu telah diatur oleh penguasa yang tidak menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Aroma kopi Blue Mountain yang baru diseduh dan uap dari omelet truffle yang mengepul seharusnya mengundang selera, namun di ruangan itu, udara terasa begitu berat dan statis, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh ketegangan yang kental dan menyesakkan. ​Jayden Morgan Takizaki duduk di ujung meja dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sebuah posisi yang secara simbolis menegaskan bahwa ia masih merupakan pusat gravitasi di rumah ini dan di seluruh imperium bisnis Takizaki Corp. Meskipun ia hanya mengenakan kemeja santai berkualitas tinggi, aura Alpha yang ia pancarkan tetap mendominasi ruangan, memaksa setiap pelayan yang lewat untuk menundukkan kepala lebih dalam. Tangannya yang besar dan kokoh sesekali menyentuh layar tablet digital untuk meninjau pergerakan pasar saham di bursa global, namun fokus utamanya sebenarnya tertuju pada suasana dingin yang menyelimuti meja makan pagi ini. ​Di sisi kanan meja, Zakiyah Emberlyn tampak sangat rapi dan elegan dalam balutan gaun rumah berbahan sutra berwarna gading yang jatuh dengan lembut di tubuhnya. Namun, kemewahan kain itu tidak mampu menyembunyikan wajahnya yang tampak lelah. Lingkaran hitam tipis di bawah matanya menunjukkan bahwa ia telah menghabiskan malam dengan terjaga, dihantui oleh kecemasan yang berlebihan tentang putra semata wayangnya. Ia terus-menerus mengaduk teh Earl Grey-nya yang sudah mendingin tanpa sedikit pun meminumnya, menimbulkan suara denting halus porselen yang beradu, sebuah irama kegelisahan yang memekakkan telinga dalam kesunyian yang mencekam itu. ​Tepat di hadapan Zakiyah, Lewis Jaydenson Takizaki duduk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan otot lengan yang kokoh dan urat-urat yang menonjol—ciri khas pria yang memiliki kekuatan fisik di balik kecerdasan intelektualnya. Lewis tampak begitu tenang, wajahnya yang datar menyerupai pahatan batu obsidian yang tidak menunjukkan jejak sedikit pun dari gejolak hasrat liar yang ia lampiaskan di bawah shower air dingin beberapa jam yang lalu. Ia mengunyah sarapannya dengan gerakan mekanis yang sangat lambat, tatapannya lurus ke depan, menembus piring porselen di hadapannya seolah-olah ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih menarik di dimensi lain. Pikirannya, yang biasanya terorganisir dengan sangat logis, kini sedang ditarik-tarik oleh bayangan siluet seorang gadis kecil yang gemetar di bawah guyuran hujan, bayangan Kairi Takemi yang seolah-olah telah menanamkan duri di dalam ingatannya. ​Keheningan di ruang makan itu bukan lagi sekadar sunyi, melainkan sebuah medan energi yang sarat akan kata-kata yang tak terucap. Setiap kali Lewis menggerakkan garpunya, Zakiyah tampak ingin berbicara namun mengurungkan niatnya, sementara Jayden terus memantau keduanya dengan ketenangan seorang predator yang sedang mengamati mangsanya. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan seolah-olah menahan napas, tidak berani membuat suara sekecil apa pun karena mereka tahu bahwa di keluarga Takizaki, ketenangan sering kali merupakan pendahulu dari badai yang sesungguhnya. ​Zakiyah akhirnya meletakkan sendok tehnya dengan gerakan yang sedikit gemetar, menciptakan suara denting yang cukup keras untuk memutus lamunan Lewis. Ia menarik napas panjang, mencoba membusungkan dadanya untuk mencari sedikit keberanian di hadapan tatapan dingin putranya. Ia melirik Jayden sejenak, mencari dukungan yang tidak ia dapatkan karena suaminya tetap bergeming pada tabletnya, lalu ia mengarahkan seluruh fokusnya pada Lewis. ​"Lewis," panggil Zakiyah, suaranya lembut namun mengandung vibrasi frekuensi yang menuntut perhatian penuh dan mutlak. ​Lewis berhenti mengunyah. Ia tidak langsung menoleh, melainkan menyelesaikan gerakannya dengan ketenangan yang mengintimidasi sebelum akhirnya mengangkat pandangannya. Sepasang mata gelap yang tajam itu kini terkunci pada ibunya, menciptakan sebuah konfrontasi bisu yang segera menaikkan suhu di ruangan tersebut. "Ya, Ma?" jawab Lewis singkat, suaranya rendah dan serak, seolah-olah ia baru saja terbangun dari tidur yang panjang dan penuh beban. ​Zakiyah meremas ujung pashmina sutranya di bawah meja, sebuah gestur kecil yang menunjukkan betapa besarnya tekanan yang ia rasakan. "Mama sudah tidak bisa lagi berpura-pura tenang setelah melihatmu pulang selambat itu semalam, apalagi dengan kondisi badai yang begitu buruk di luar sana. Kamu adalah satu-satunya putra kami, Lewis. Masa depan seluruh keluarga ini, seluruh Takizaki Corp, ada di pundakmu." ​Lewis mengangkat sebelah alisnya, sebuah ekspresi sinis yang samar. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini. Ia sudah mendengar narasi tentang 'tanggung jawab' dan 'masa depan' ini ribuan kali, namun pagi ini, di tengah obsesinya yang mulai tumbuh terhadap Kairi, kata-kata ibunya terasa seperti belenggu yang lebih berat dari biasanya. ​"Mama sudah memutuskan," lanjut Zakiyah, suaranya kini terdengar lebih stabil meskipun ada sedikit nada emosional yang terselip. "Sudah waktunya kamu berhenti dari kegiatanmu di universitas itu. Menjadi dosen, membimbing mahasiswa, melakukan riset yang tidak pernah selesai—semua itu hanya membuang-buang waktumu yang berharga. Kamu sudah cukup bermain-main dengan dunia akademis selama beberapa tahun ini. Sekarang, Mama ingin kamu segera masuk ke kantor pusat Takizaki Corp. Kamu harus mengambil posisi Wakil Direktur Utama dan mulai fokus sepenuhnya pada kerajaan bisnis yang seharusnya sudah kamu pimpin sejak lama." ​Suara Zakiyah menggema di ruang makan yang luas itu, menciptakan getaran yang seolah-olah mengguncang lampu-lampu kristal di atas mereka. Lewis meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring, gerakannya sangat pelan namun tegas, menciptakan bunyi logam yang tajam di atas porselen. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi jati yang kaku, melipat tangannya di depan d**a, dan menatap ibunya dengan intensitas yang sanggup membuat orang biasa merasa gemetar. ​"Bermain-main, Ma?" Lewis mengulangi kata itu dengan penekanan yang sangat dingin, seolah-olah kata itu adalah kotoran yang merusak reputasinya. "Mama menganggap dedikasi riset dan kontribusi akademikku selama ini sebagai sekadar bermain-main?" ​"Bukan itu maksud Mama, Nak," Zakiyah mencoba membela diri, meskipun ia tidak menarik kembali pernyataannya. "Maksud Mama adalah prioritas. Kamu menghabiskan waktu sampai larut malam di kampus, terjebak dalam badai hanya karena urusan bimbingan mahasiswa yang bahkan tidak memiliki pengaruh apa pun pada nilai saham kita. Itu tidak logis bagi seorang Takizaki. Kamu memiliki bakat alami dalam kepemimpinan, kamu memiliki darah Takizaki, dan seharusnya kamu berada di gedung pencakar langit kita, memimpin ribuan orang, bukan berada di ruang kelas yang sempit dengan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memiliki level yang sama denganmu." ​Jayden tetap diam, namun ia menurunkan tabletnya sedikit, memberikan perhatian pada titik didih yang mulai terbentuk antara istri dan anaknya. Sebagai pria yang memiliki insting Alpha yang sama dengan Lewis, Jayden tahu bahwa Zakiyah baru saja melakukan kesalahan besar dengan mencoba mendikte kebebasan Lewis di hadapan meja makan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD