DETAK MUNGIL

2311 Words

Dua minggu berselang. “Aku kayaknya mau muntah lagi, A.” Helia berhenti melangkah tepat di depan pintu lobi rumah sakit. Tangannya lalu menutup mulut. Bintang melepas genggaman mereka, tangannya pindah merangkul pinggang sang istri. Ia mendorong lembut, memandu Helia ke kursi pojok terdekat. Helia duduk, menyiapkan kantung muntah di genggaman, sementara Bintang berdiri dengan posisi menutupinya dari pandangan orang-orang. Ia menarik napas, menahannya sebentar, lalu mengembuskannya perlahan. Tak jadi muntah, namun perut dan dadanya sungguh jauh dari nyaman. Ia menyandarkan punggung. Bintang bersimpuh di depan sang istri. “Ngga jadi?” “Hmm,” gumam Helia. “Mau aku beliin sesuatu? Jus?” Helia menggeleng. “Kan sudah bawa minuman dari rumah, A.” Bintang mengangguk tipis. “Maaf, ya A,”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD