TEH DAN KOPI

1670 Words

Helia menatap genggaman itu, tertegun sejenak. Rasanya seperti mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang tak berani ia suarakan tadi. Tentang rumah, tentang pulang, tentang apakah mereka akan bersama membangun sesuatu yang sehangat ini saat kelak hidup menuntut lebih banyak hal. Helia menyapukan pandangan, memperhatikan banyak hal. Eira yang sibuk membagi pancong, dan para orangtua yang pengertian dengan hanya mengambil setengah bagian agar gadis kecil itu tak merasa kekurangan bahkan setelah ia berbagi. Di sisi lain, Jihan naik ke lantai atas, lalu beberapa saat kemudian turun tanpa membawa tasnya, seolah rumah ini sama rasanya dengan rumah kedua orangtuanya. Hana tengah mendengarkan Anggita dengan saksama, lalu mengeluarkan ponsel, menatap layar sambil tetap mengiyakan apa pun yang sang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD