“A?” “Masuk, Izora,” seru Bintang. Helia memasukkan kode kunci unit Bintang, lalu membuka pintunya. Bukan sosok kekasihnya yang menyapa lebih dulu, melainkan aroma sedap yang sontak menerbitkan air liur. “Aa masak apa? Aku dibikinin ngga?” Bintang meliriknya tajam. Tatapan pura-pura galak yang sudah terlalu ia kenal. Helia tergelak renyah, menempel di punggung Bintang, menghidu wanginya yang tak pernah membosankan. “Kapan sih aku ngga masakin kamu?” sahut Bintang tanpa menoleh. “Makanya aku jadi malas masak,” balas Helia. “Lagian enakan masakan aku,” timpal Bintang. Helia terkekeh lagi, lalu mengangguk. “Ia bikinin Aa kopi aja ya?” “Boleh.” Ia menyalakan ketel, menuangkan air ke dalamnya, lalu mengambil kertas saring dari rak. Helia lalu melipat kertas, memasangnya di dripper, me

