“Nadia di sini dulu ya. Berjemur tipis-tipis.” Helia meletakkan bayinya di bouncher, tepat di bawah cahaya pagi yang menembus kaca jendela. Putrinya itu sibuk memperhatikan mainan yang tergantung di atas kepalanya. Paginya kini tak lagi melelahkan. Nadia hanya terbangun satu atau dua kali setiap malam. Itu pun, Helia sudah bisa menyusuinya sambil tiduran. “Hawuuu,” ujar Nadia, entah mengomentari apa. Helia menunduk sejenak, mengecup kening Nadia, lalu bergeser ke dapur. Hanya beberapa langkah, jadi ia tak perlu menggeser serta sang bayi. Ia mengulang ikatan rambutnya, menggelung seadanya. Teh di termos yang sempat ia buat subuh tadi, dituang ke cangkir. Ia menyesap pelan, sementara tangan yang lain memegang ponsel, membaca pesan dari grup kerja Théologie. Helia yang sekarang, tak lag

