Arani turun dari ranjangnya, meninggalkan kamar menuju dapur. Di sana, tanpa menyalakan lampu dapur, ia mengambil segelas air dingin, meneguk hingga tandas lalu duduk di kursi makan. Belum sempat ia larut dalam lamunan, suara langkah yang khas terdengar mendekat. Munik muncul sambil mengikat obi kimononya. “Belum tidur, Kak?” tanya Munik. “Haus, Mi," tanggap Arani. Munik mengambil mug, mengisi gelasnya dengan air hangat, lalu duduk berhadapan dengan putri sulungnya. “Besok ngantor?” tanyanya. Arani menatap ibunya datar. “Iya, Mi. Kayak biasa,” jawabnya, lalu meneguk. “Kamu jangan bikin Gavin makin kesal, ya Kak,” ujar Munik lagi. Ia menghela napas pelan. “Dia itu… pasti lagi banyak tekanan.” Arani mengangguk. “Iya, Mi.” Jawaban yang singkat. Aman. Dan tidak memancing perdebatan. M

