Tiga hari berlalu sejak Arani kembali ke Surabaya. Tiga hari di mana paginya dimulai dengan membuka pintu untuk Bintang saat matahari bahkan masih lelap. Yang juga berarti akhir minggu kembali menyapa. “Siap, Neng?” tanya Bintang sebelum melajukan motornya. Helia melingkarkan tangannya di pinggang Bintang, mengangguk. “Siap, A.” “Oke. Kita berangkat.” Motor bergerak perlahan, menyelip di antara kendaraan lain. Jalanan sudah ramai. Klakson bersahutan. Lampu merah berganti hijau. Angin menampar lembut wajah Helia, membawa sisa aroma pagi yang belum tercemar sepenuhnya. Helia tak banyak bicara, lagipula itu akan menyita perhatian Bintang yang seharusnya fokus mengemudi. Ia hanya menempelkan dahi sebentar ke punggung Bintang, lalu kembali menegakkan tubuh. Ada rasa aman di sana. Sekitar

