“Eh, cucu Yangti sudah bangun,” ujar Munik saat mendengar langkah yang mendekat ke arahnya. Ia membasuh tangannya, lalu mendekati Helia, mengambil Nadia dari gendongannya. “Sudah nenen belum?” Nadia membalas dengan senyuman. “Masya Allah tabarakallah, manisnya cucu Yangti, wajahnya mirip Ayah, tapi pernak-perniknya punya Bunda. Iya?” “Hauuu,” balas Nadia. Munik mengecup cucunya singkat. “Mi, ini tempenya tinggal digoreng?” tanya Helia yang kini menggantikan Munik di depan kompor. “Iya. Sopnya juga sudah mau matang itu, Ya.” “Ngiler banget, Mami pagi-pagi sudah nyambel.” “Iya dong. Mana enak makan ngga ada sambel.” Pagi itu, langit Jakarta tampak padat dengan awan, membuat cahaya matahari tak turun terik. Bukan mendung, namun cuaca terkesan tepat untuk bepergian. Mereka punya tujua

