NOISE

1443 Words

“Bilang ke Pak Gavin, Zetta ingin bertemu.” Tak ada yang berbeda dengan kantor pusat Laksmana Parfum di Surabaya menjelang siang itu. Namun, Zetta tak menyukainya. Harusnya, ia bebas datang ke sini. Harusnya orang-orang menatapnya kagum. Harusnya para staf mengenalnya dan mengangguk hormat. Harusnya.... Jika Gavin memberinya posisi yang jelas. Ia berdiri di depan meja resepsionis, mengenakan blazer hitam polos, rambut disanggul rapi, ekspresinya dingin dan angkuh. Seolah ia datang bukan sebagai tamu, tapi seseorang yang memiliki hak atas perusahaan itu sendiri. Resepsionis jelas ragu—kebanyakan orang di gedung itu tau siapa Zetta karena kerap tiba-tiba muncul saat bos mereka masih bertunangan dengan Helia. Sahabat Helia, itu yang mereka tau. Lantas mengapa Zetta muncul lagi sement

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD