Helia duduk tegak. Bahunya tegang. Punggungnya basah oleh keringat dingin. Napasnya masih terengah seperti orang yang habis lari tanpa sadar sedang dikejar apa. Ia menelan ludah, lalu memaksa dirinya menyadari satu hal sederhana—merasakan tarikan dan embusan napasnya. Matanya mulai menyapu, ke jendela kaca di seberang ranjang, ke meja living room yang diisi barang-barang Bintang, ke segelas air di nakas samping tempat tidurnya. Telinganya pun ia ajak mendengar; kucuran air di kamar mandi, dengung AC, detak jam meja. Ini unitnya. Ini ranjangnya. Ini malam dengan Bintang menemaninya, bukan malam yang lain. Namun ingatan itu masih menempel lekat—lampu-lampu yang mengedip—memantul di kaca spion, rem yang mendecit, tangisnya sendiri yang berantakan, suara Arani yang mencoba tetap waras di te

