TRANSIT TERAKHIR

1203 Words

“Aku—“ Zetta tak mampu melanjutkan kalimatnya. Sorot mata pemuda di hadapannya membuatnya sontak menunduk. Pukul sebelas malam, Hamad International Airport. Bandara itu terang benderang, tak mengenal kata hening. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu, derap langkah para penumpang bergema tanpa henti, juga roda troli dan koper yang bergulir, pengumuman penerbangan, dan percakapan dalam bahasa yang saling bertabrakan. Dunia terus bergerak, tak peduli pada satu perempuan yang duduk kaku di salah satu kursi, tak jauh dari gate transit. Zetta memeluk handbag di pangkuannya. Tangannya dingin. Kuku-kukunya menekan kulit lengan tanpa sadar, seolah rasa sakit kecil itu adalah satu-satunya cara untuk memastikan ia masih terjaga. Di hadapannya, Raka berdiri tegak, lengan terlipat di d**

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD