Suara sendok dan garpu yang saling bersentuhan terdengar lembut di antara tawa kecil Keivan. Bocah empat tahun itu dengan semangat menceritakan banyak kepada Kevynn, ayah yang baru saja dikenalnya. "Tadi aku main bola di sekolah! Aku bisa tendang jauuuhhh!" ujar Keivan sambil mengangkat tangan kecilnya, seolah menggambarkan betapa hebatnya tendangannya. Kevynn tersenyum, matanya berbinar bangga. "Wow, hebat sekali! Kau ingin jadi pemain sepak bola?” Keivan mengangguk antusias. "Iya!” “Tapi aku juga ingin jadi pembalap, Dad.” “Itu juga bagus. Kau bisa melaju cepat dengan mobilmu. Nanti akan daddy belikan—“ Belle menendang kaki Kevynn dan melebarkan matanya pada pria itu, seolah mengatakan, ‘Jangan memanjakannya!’ Kevynn hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka kembali bercerita.

