Pertemuan pertama yang panjang terjadi di sebuah lounge hotel mewah, jauh dari area perumahan Tama. Maharani memesankan minuman mahal dan makanan ringan, menciptakan suasana yang rileks dan jauh dari kekacauan domestik. "Kamu terlihat sangat lelah, Tama," kata Maharani, menatap Tama dengan penuh perhatian. "Tante Ajeng banyak cerita. Aku bisa melihat beban di pundakmu." Tama, yang sangat merindukan validasi, langsung merespons. Ia mulai menceritakan semua keluhannya: tekanan Ajeng, biaya si kembar yang membengkak, dan betapa "keras kepalanya" Aya yang menuntut batasan finansial dan akhirnya menganggapnya sebagai "beban" karena ia tidak bisa menjaga penampilan. Maharani tidak mengkritik Ajeng, juga tidak menyerang Aya. Ia hanya mengangguk, mendengarkan dengan penuh perhatian. "Tent

