Panggilan ke Kantor yang Mematikan.

1061 Words

​Selama berminggu-minggu, Aya hidup dalam kabut kebohongan dan parfum mahal. Setiap Tama pulang larut dengan dalih "lembur," hati Aya mencelos, diiringi rasa jijik yang dalam. Ia telah mencium kemeja, memeriksa saku, tetapi bukti yang ada hanyalah aroma dan keganjilan. Ia butuh konfirmasi yang tidak bisa dibantah Tama. ​Aya tahu, ia harus membongkar alibi "lembur" yang sudah menjadi mantra harian Tama. ​Pada hari Kamis sore, setelah jam kerja resmi berakhir, Aya memandikan si kembar. Ia memilih waktu ini karena Tama sudah mengirim pesan bahwa ia akan "lembur rapat penting" hingga tengah malam. ​Aya menatap Alif dan Arif yang kini sudah tenang di keranjang bayi mereka. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu harus memastikan Ayahmu tidak berbohong. Ini demi masa depan kita," bisiknya pelan, seolah memint

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD