"Ibu telepon aku tadi," kata Tama pelan, enggan memulai. Aya berhenti mengepak. Jantungnya berdebar. Ia berharap ada sedikit saja kata pujian atau terima kasih yang keluar dari mulut mertuanya. "Dia bilang apa?" tanya Aya. Tama menghindari tatapan Aya. "Dia bilang ... dia bilang kuenya ... terlalu manis, Ay." Aya mengerutkan kening. "Terlalu manis? Lapis Surabaya memang manis, Tam. Itu resep otentik yang aku ambil dari resep ibuku sendiri. Pelanggan online juga suka." "Iya, aku tahu," desah Tama, suaranya dipenuhi rasa bersalah. "Tapi Ibu bilang, kue itu tidak enak. Dia bilang kue Dapur Aya itu jauh berbeda dengan kue dari toko mahal yang biasa dibeli Kakak iparnya. Rasanya biasa saja, katanya." Kata-kata itu menghantam Aya dengan kekuatan yang mengejutkan. Ajeng tidak hany

