Namun, pengkhianatan itu tetap ada. Suatu hari, Aya melihat sticker toko elektronik terkenal di rumah Ajeng. Kebetulan, Ajeng menelepon Aya (kali ini bukan untuk marah, melainkan untuk pamer). "Aya, kamu harus lihat kulkas baruku! Bagus sekali! Sekarang Ibu bisa menyimpan stok kuemu lebih banyak," kata Ajeng bangga. Aya terkejut. "Kulkas baru, Bu? Dari mana dananya?" "Dari Tama, dong! Siapa lagi? Anak Ibu yang paling bertanggung jawab," jawab Ajeng dengan nada yang tidak mungkin disembunyikan. Jantung Aya seketika mencelos. Ia tahu persis bagaimana keadaan finansial mereka. Membeli kulkas baru adalah kemewahan yang mustahil. Apalagi, Tama tidak pernah membicarakan hal itu dengannya. Aya menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia tidak bertanya pada Tama saat itu juga. Ia hanya

