"Aku percaya, Tam," jawab Aya. Keyakinan Tama yang kuat menjadi jangkar baginya. Ia merasa dicintai dan dihormati karena Tama tidak pernah melarikan diri, bahkan ketika tahu janinnya kembar.
Tama memutuskan untuk menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku tentang pengasuhan anak dan mengurus keuangan rumah tangga. Ia kini mulai serius memikirkan perencanaan keuangan, membagi gajinya untuk cicilan, sewa rumah, dan tabungan. Perasaan sebagai calon ayah kembar membuat Tama bertekad menjadi pria yang jauh lebih mapan dan bertanggung jawab.
Namun, di tengah semua persiapan yang tergesa-gesa dan optimisme Tama, Aya merasakan keraguan kecil. Apakah cinta dan tekad saja cukup untuk menutupi semua biaya yang akan datang? Apakah janji "akan bahagia" itu bisa bertahan seumur hidup? Ia segera menepis keraguan itu. Tama sudah berjuang keras, dan kini, ia harus mendukungnya.
Beberapa hari sebelum hari H, mereka mengundang Ajeng dan Sarah untuk melihat rumah kontrakan mereka. Ajeng berkomentar bahwa rumah itu terlalu kecil. Sarah, di sisi lain, hanya diam, namun air matanya menetes melihat kesederhanaan rumah tangga yang harus dimulai oleh putrinya.
"Ini adalah perjuangan, Nak. Kalian berdua harus kuat," pesan Sarah pada Aya.
Tama menggenggam tangan Aya. "Kami akan kuat, Bu."
Akhirnya, semua persiapan administrasi selesai. Kartu Keluarga (KK) baru, surat nikah, dan tempat tinggal yang siap dihuni. Walaupun pernikahan ini dimulai dengan aib dan keterpaksaan, di mata Tama dan Aya, ini adalah awal dari komitmen suci. Mereka berdiri di ambang pintu rumah kontrakan baru mereka, menatap masa depan yang masih buram, namun penuh harapan. Mereka telah mengambil keputusan cepat, dan kini tinggal menunggu hari pengucapan janji suci.
***
Hari yang dinanti sekaligus mendebarkan itu akhirnya tiba. Bukan hari pesta besar dengan gaun mewah yang menjuntai, melainkan pagi yang sunyi dan khidmat di Kantor Urusan Agama (KUA). Aya mengenakan kebaya sederhana berwarna krem yang dipinjamkan ibunya—kebaya itu sedikit longgar, untuk menyamarkan perutnya yang mulai sedikit membesar.
Sejak subuh, ketegangan menyelimuti Aya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan, inilah hari di mana ia akan mengikat janji suci, namun tanpa gegap gempita, dan didahului oleh rasa malu yang mendalam dari kedua keluarga. Hanya ada keluarga inti yang hadir: Galih dan Sarah dari pihak Aya, serta Ajeng, Rita, dan Tari dari pihak Tama. Mereka semua duduk dalam keheningan, tanpa banyak senyum.
Aya menatap pantulan dirinya di cermin. Ia bukan pengantin yang bersinar penuh kebahagiaan, ia adalah pengantin yang dipenuhi rasa lega. Lega karena aib ini akan segera tertutup oleh pernikahan yang sah.
Tama datang menjemputnya dengan mobil sewaan yang sederhana. Ia terlihat tampan dan rapi dalam balutan jas yang dipinjam dari saudaranya. Senyumnya pagi itu terasa sungguh menenangkan.
"Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Tama saat melihat Aya. Ia memegang tangan Aya, menyalurkan kehangatan. "Jangan takut. Setelah ini, semuanya akan baik-baik saja."
Di KUA, suasananya sangat formal. Aya duduk di samping Sarah, sementara Tama duduk berhadapan dengan Galih di depan penghulu. Galih memasang ekspresi datar, menahan semua emosi dan kekecewaannya.
Prosesi dimulai. Penghulu memberikan nasihat pernikahan yang panjang, menekankan pentingnya tanggung jawab, kesabaran, dan komitmen dalam rumah tangga. Kata-kata "tanggung jawab" dan "komitmen" terasa begitu berat, seolah ditujukan langsung pada Tama.
Saat tiba pada prosesi ijab kabul, suasana menjadi sangat tegang. Tama menjabat tangan Galih. Galih menatap Tama dalam-dalam, pandangannya mengandung ultimatum tanpa kata: Jangan pernah kamu menyakiti putriku.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Aya binti Galih, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin emas seberat lima gram, dibayar tunai," ucap Galih dengan suara tegas dan sedikit bergetar.
Tama menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, mengumpulkan semua keberanian dan tekadnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aya binti Galih dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Tama lantang, suaranya mantap dan tanpa keraguan sedikitpun.
Seketika, kata-kata "Sah!" menggema dari para saksi.
Saat itu juga, beban berat di pundak Aya seakan terangkat. Air mata lega mengalir membasahi pipinya. Ia dan Tama kini sah menjadi suami istri.
Tama menoleh ke arah Aya. Senyumnya kini benar-benar tulus, senyum seorang pria yang baru saja menunaikan janji terbesarnya. Ia menghampiri Aya, memasangkan cincin emas sederhana itu di jari manis Aya, lalu mencium kening istrinya lama. Ciuman itu adalah janji tak terucapkan, sebuah ikrar bahwa ia akan bertanggung jawab seumur hidupnya.
Aya membalas ciuman itu dengan air mata bahagia dan syukur. Ia memegang janji Tama. Ia percaya, di balik semua kesalahan dan aib ini, Tama adalah pria yang tepat untuknya, pria yang memilih bertahan dan memperjuangkan mereka—termasuk kedua janin kembar di dalam perutnya.
Setelah prosesi penandatanganan selesai, suasana mulai mencair. Sarah memeluk Aya dengan isakan haru, mendoakan kebahagiaan putrinya. Ajeng menyalami Aya dengan formal, meskipun senyumnya terasa sedikit dipaksakan. Rita dan Tari hanya menyalami sekilas, tanpa banyak bicara.
Mereka kemudian berkumpul sejenak untuk foto keluarga. Foto yang diambil bukan foto studio yang mewah, melainkan foto cepat dengan latar dinding KUA. Walaupun foto itu sederhana, di mata Aya, foto itu adalah bukti permulaan.
Selesai di KUA, Tama mengajak Aya dan kedua keluarga untuk makan siang di restoran sederhana. Di sana, Ajeng, Galih, dan Sarah masih terlihat canggung dan menjaga jarak, namun setidaknya mereka duduk di meja yang sama sebagai keluarga baru.
Saat makan, Tama berbisik di telinga Aya. "Mulai hari ini, kamu adalah Nyonya Tama. Jangan khawatir tentang apa pun. Fokus kita adalah rumah tangga kita. Aku janji, aku akan bekerja keras, demi kamu, dan demi anak-anak kita. Aku tidak akan pernah melupakan janji yang aku ucapkan di depan Ayahmu dan penghulu tadi."
Aya menatap Tama, matanya memancarkan kepercayaan penuh. "Aku juga berjanji, aku akan menjadi istri dan ibu terbaik untukmu dan anak-anak kita."
Hari pernikahan itu, meskipun jauh dari kata sempurna, diakhiri dengan kedamaian dan tekad baru. Tama membawa Aya ke rumah kontrakan kecil mereka. Di sana, mereka berdua mulai membangun rumah tangga, dari nol, berdua, dengan janji dan harapan yang sederhana.
Malam pertama di rumah baru, Aya duduk di tepi ranjang. Ia memegang perutnya yang sedikit menghangat. Ia merasa lega. Ia telah melewati badai terburuk: rasa malu di hadapan keluarga dan kepastian hukum. Kini, ia resmi menjadi istri Tama, dan ia yakin, dengan janji yang dipegang Tama, mereka pasti akan bahagia. Seumur Hidup Itu Lama, dan kini mereka telah mengukir permulaan yang baru.
***