Bab 29. Allysa Koma

1307 Words

“Bagaimana keadaannya, Tuan?” Suara Marco terdengar rendah namun tegang ketika masuk ke ruang tunggu ICU. Lucas yang duduk dengan kepala menunduk, kedua siku bertumpu pada lutut, hanya melirik sekilas. Rambutnya berantakan, wajahnya kusam karena dua hari tanpa tidur setelah kejadian penembakan. “Tidak ada perubahan,” jawabnya singkat. “Dua hari … dan masih koma.” Marco menghela napas, lalu mendekat. “Tuan, Anda butuh istirahat. Biarkan saya yang berjaga.” Lucas menoleh, matanya merah dan tajam. “Aku tidak akan pergi sebelum dia membuka mata.” Marco terdiam. Ia tahu, Lucas bukan bicara sekadar soal tanggung jawab. Ada sesuatu yang lebih berat, sesuatu yang bahkan Lucas sendiri enggan mengakui. Sebelum Marco sempat berkata lagi, pintu ruang tunggu terbuka. Suara ketukan sepatu hak tingg

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD