Sammer mengangkat cangkir kopinya, menyesap perlahan, sementara Juliet tampak tenang dengan senyum samar yang tak pernah hilang dari wajahnya. Said duduk agak kaku, memandangi api perapian yang berkilat-kilat, pikirannya tak sepenuhnya fokus. Ruby akhirnya bangkit dari kursinya. “Aku naik dulu.” Suaranya datar, seolah biasa saja. Juliet meliriknya sekilas. “Jangan lupa dengan idemu itu, Ruby.” Ruby mengangguk patuh, lalu berjalan keluar ruang tengah. Namun langkahnya berubah ringan begitu ia mencapai lorong panjang. Saat Ermet muncul dari dapur membawa nampan berisi kopi tambahan dan kudapan manis, Ruby menahan diri untuk tidak tergesa-gesa. “Non Ruby tidak kembali ke ruang tengah?” tanya Ermet sopan. Ruby tersenyum singkat. “Tidak. Aku mau istirahat.” Ia lalu berbalik menuju tangga,

