Mobil abu-abu itu terus melaju membelah jalanan Istanbul yang semakin padat menjelang senja. Di dalamnya, Allysa duduk diam, menatap keluar jendela dengan d**a berdebar. Setiap kilometer terasa seperti pertaruhan hidup dan mati. Ia masih menggenggam tas kecilnya erat, seolah benda itu satu-satunya benteng antara dirinya dan dunia luar yang mengintai. Sudah lebih dari satu jam perjalanan, dan akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gedung besar dengan bendera merah-putih yang berkibar di puncaknya — Kedutaan Besar Republik Indonesia. Kekey, wanita petugas kebersihan yang kini menjadi penyelamatnya, segera menepikan mobil dan menatap sekilas ke arah luar. Tatapannya tajam, penuh kewaspadaan. “Kita sudah sampai,” katanya pelan. “Tapi jangan keluar dulu, Mbak. Saya telepon dulu kenalan saya

