Langit Istanbul mulai kelam, memantulkan cahaya lampu dari jendela-jendela besar mansion keluarga Alberto. Di dalam, suasana tampak hidup — tapi bukan karena kehangatan keluarga. Melainkan karena seseorang tengah berusaha menegaskan kekuasaannya. “Ermet!” Suara tajam Eleanor menggema di aula makan. “Pastikan malam ini meja makan tampak sempurna. Aku ingin lilin dari koleksi Prancis itu dinyalakan, dan gunakan porselen emas untuk makan malam.” Ermet, kepala pelayan, membungkuk sopan. “Baik, Madam Eleanor. Makanan utama apa yang harus disajikan?” Eleanor menegakkan bahunya, senyum dingin di bibirnya. “Kita buat sesuatu yang berkelas—steak wagyu dan wine merah. Tidak ada yang sederhana di bawah aturanku." Ia lalu berbalik, gaunnya berdesir lembut. Di matanya, mansion ini bukan rumah orang

