Setelah badai gairah yang meluluhlantakkan tenaga mereka di atas geladak kapal pesiar, suasana berubah menjadi lebih tenang namun sarat akan ketegangan yang tak kasat mata. Langit Maladewa mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan saat matahari bersiap untuk tenggelam di garis cakrawala. Damian, dengan hanya mengenakan celana linen putihnya, kini duduk di kursi santai sambil menyandarkan kepala Aurelia di dadanya. Tangan Damian mengusap bahu Aurelia yang masih terasa hangat. Di atas meja kecil di samping mereka, terdapat sebuah tablet tipis yang terus menyala, menampilkan grafik saham dan laporan intelijen dari Jakarta. Meskipun sedang berlibur, Damian tidak pernah benar-benar melepaskan genggamannya dari dunia bisnis yang kejam. "Aurelia," suara Damian memecah kesunyian, terdengar

