Hotel

454 Words
"Ca, gak semudah itu di lapangan, Ca. Please lah. Jangan aneh-aneh, ayo kita pulang, sebelum semuanya terlanjur..." jawab kapten pilot tampan itu lagi. "Yu, jangan kelewatan kamu! Aku udah berbuat baik tapi kamu gak hargain aku!" Geram Carissa lagi dengan suara tinggi. "Ini bukan perbuatan baik, Ca. Apakah kamu tidak kawatir kalau semuanya berbalik arah, dan nantinya aku benar-benar mengharapkan wanita lain?" Tatap kapten Ryu dengan sorot patah. Seketika sang istri tertawa cekikikan. "Itu gak mungkin terjadi, Sayang. Aku kenal kamu banget, dan itu gak akan mungkin. Kamu itu jangan ketakutan gitu, lagian ini Pritha. Bukan wanita lain atau temen modelku atau pramugari yang genit-genit. Jadi, mustahil kalau kamu itu bakalan jatuh cinta ke dia..." suara tawa membuat Ryuga menoleh ke arah istrinya tak percaya. "Ca, hati manusia siapa yang bisa menebak. Dan aku juga bukan pria yang bisa menjamin bisa adil terhadap dua wanita dalam hidupku." Tegas Ryuga lagi berharap sang istri bisa berubah pikiran. "Yu, sudahlah. Jangan terlalu berlebihan. Dua tahun itu tidak lama, sangat sebentar. Kamu lupa bahwa pernikahan kita bahkan sudah lima tahun dan aku merasa kita baru kemarin menikah?" Tatap Carissa lagi. "Itu dua hal yang berbeda, Ca. Jadi, please, selagi belum terlanjur ayo kita pulang dan cari jalan lain untuk kita punya anak..." jawab sang kapten dan seketika... PLAK! "Kamu bisa ngerti aku gak sih, Yu! Aku udah berkali-kali bilang ke kamu. Aku tidak mau hamil dan melahirkan! Aku tidak mau perutku kendur! Apalagi payvdaraku turun hanya gara-gara menyusui! Dan inilah caraku berbakti ke kamu, aku memberikan wanita itu ke kamu! Kenapa kamu keras kepala banget, Yu?!" Tegas Carissa denagn sorot mata tajam. "Ingat, Yu, hutang kamu ke keluargaku juga belum lunas, jadi sebaiknya kamu turuti saja kata-kataku selagi aku perntahkan." Tegas Carissa lagi dan seketika sang kapten menoleh dengan sorot tak percaya. "Ca, hutang?" Ulangnya. "Ya, kamu lupa bagaimana aku dan keluargaku menolong adik kamu?" Tatap Carissa dengan sorot mata tajam, dan seketika kapten Ryu tertawa sumbang. "Baiklah. Kalau memang ini mau kamu. Tapi, jangan salahakn aku, jika hasil akhirnya tidak sesuai dengan keinginan kamu." "Maksud kamu apa, Yu?" "Ya, aku tidak menjamin, meskipun dokter mengatakan aku subur, tapi aku tidak bisa menjamin apakah aku akan bisa membuat prempuan itu hamil atau tidak. Satu yang bisa aku pastikan. Aku akna melunasi semua hutangku ke keluargamu!" Tegas suara kapten Ryu bergetar, kali ini wajahnya datar penuh kekecewaan. Dia hanya menelan ludah dan mengepalkan tangan. "Sudah, kamu ikutin aja alurnya. Yang jelas, kamu lakukan saja dulu akad nikah siri seperti yang kamu inginkan. Sisanya nanti biar aku yang atur." Tegas Carissa lagi. "Ingat, Ca. Terkadang semua yang kita pikir sudah tepat dan pasti tapi bisa berbeda hasilnya." Tegas sang suami sebelum akhirnya dia melangkah dengan mantap ke dalam ballroom.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD