Satu Ranjang

1017 Words
Siang itu mereka kembali ke rumah, dan kapten Ryuga langsung mencari ibunya. "Loh, mama saya dimana, Mba?" Tanya sang kapten dengan dahi bertaut. "Ohh, Nyonya Carissa mindahin mama tuan ke rumah yang berbeda, pesan dari nyonya kalau tuan sudah sampai rumah minta sopir anterin saja, gitu pesan nya, Tuan.." ucap sang asisten rumah tangga membuat kapten Ryuga langsung menghubungi nomor sang istri. Sayangnya, saat ini sang istri sedang berada di atas pesawat perjalanan Jakarta - Swiss. "Jam berapa nyonya tadi berangkat?" Tanya sang kapten lagi. "Subuh, Tuan." Tanpa menjawab, Ryuga langsung berbalik arah dan mencari sopir pribadi mereka. "Antarkan saya ke tempat dimana mama." Perintahnya langsung duduk di kursi penumpang tanpa menunggu di buka kan pintu. "Baik, Tuan." Jawab pria itu langsung menyalakan mesin mobil yang tadi sudah dia panasin. "Itu...engg..anu..." sopir pribadi itu menggaruk kepalanya menatap ke arah Pritha yang berdiri di depan pintu. "Sudah, kalau saya bilang jalan ya jalan!" Tandasnya. "Tapi, nyonya Carissa berpesan kalau misalnya tuan sudah pulang, katanya tuan kesana nya sekalian sama Mba Pritha katanya...gitu pesan nyonya, Tuan..." sopir pribadi itu terlihat nyengir dengan mimik wajah sedikit bingung. "Kalau saya bilang jalan ya jalan!" Tegas Ryuga lagi dan sang sopir akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan rumah megah yang belum lama dia masuki. "B-baik, Tuan." Mobil melaju cepat meninggalkan rumah yang sudah lima tahun ini dia tempati bersama sang istri. Perjalanan panjang membuatnya sempat tertidur di dalam mobil karena kantuk yang enyerang, sampai akhirnya sopir pribadi itu membangunkannya perlahan. "Tuan, kita sudah sampai..." ucapnya lagi dan dengan berat Ryuga membuka kedua matanya. Dia memperhatikan sekeliling dan melihat itu adalah rumah sang ibunda. "Mama di bawa balik kesini?" Tandas Ryuga lagi. "Iya, Tuan. Kata Nyonya, nantinya mba Pritha dan Tuan juga tinggal di sini, sampai mba Pritha hamil. Setelah itu baru tuan balik ke rumah besar lagi." Tegas sang sopir pribadi itu sambil menggaruk kepalanya, dan seketika amarah Ryuga memuncak di kepalanya. Bagaimana mungkin dia di usir dari rumah yang dia beli dengan keringatnya sendiri. "Ibu ngomong gitu ke kamu?" Tatap Ryuga lagi tajam. "Iya, Tuan." "Selain kamu siapa yang tahu pernikahan aku dengan Pritha?" Tatap Ryuga dingin. "Semua anggota keluarga di rumah tau, Tuan." "Ohh, oke." "Tuan, mobil tuan juga sudah di rumah ini dan beberpa barang pribadi tuan. Jadi, tuan tidak perlu ke rumah besar sampai nyonya konfirmasi..." ucap sang sopir pribadi itu semakin membuat amarah Ryuga memuncak. "Oh, ya, Tuan. Saya jemput mba Pritha dulu ya, permisi..." pamitnya dan Ryuga benar-benar tidak habis akal dan kehabisan kata-kata denagn apa yang di lakukan sang istri. Ryuga masuk ke dalam rumah sang ibu, tampak di sana asisten rumah tangga ibunya yang masih setia sedang menemani snag ibu. "Mama...." Panggilnya sambil berurai air mata, dia tak lagi kuasa untuk menahan gundah yang membebani hatinya. "Nak...jangan menangis..." sebuah suara yang membuat Ryuga yang tadi menangis sesenggukan dengan kepala menopang ke arah sang ibu yang tengah terbaring, kini duduk tegak dan menatap sang ibu dengan rasa terkejut. "Mama bisa ngomong sekarang?" Tatap Ryuga dengan wajah berbinar seketika. Dia bahkan melupakan sejenak tentang permsalahan pelik dalam hidpnya dimana dia di paksa untuk menikah dengan wanita lain oleh istrinya sendiri, sudah seperti dunia terbalik. Biasanya seorang istri akan mempertahankanmati-matian suaminya agar tidak pergi ke prempuan lain, tapi yang terjadi dengannya justru istrinya mendorong nya ke pelukan wnaita lain hanya dengan alasan dia tidak mau hamil dan melahirkan apalagi menyusui. "Sedikit, Nak..." bisik sang ibu dengan suara yang serak. "Ahh! Syukurlah, Ma. Akkhirnya mama bisa bicara lagi..." bisik Ryuga dengan semangat membara "Kamu jangan bersedih, Nak. Mungkin ini takdir Allah yang harus kamu jalani. Kalau memang kamu harus menikah dengan nak Pritha, jujur mama justru merasa lega dan bahagia sekali, saking bahagia nya sampai tanpa sadar suara mama keluar sendiri..." bisik sang ibu dengan air mata menetes di sudut matanya, meski dia tidak bisa mengusapnya karne memang dirinya lumpuh total "Ma. Carissa kelewatan banget sudah, Ma. Ryu ga bisa gini terus, Ma. Jatuh harga diri Ryu dibuat nya..." isak Ryuga lagi mengadu pada ibunya seperti anak kecil. "Pritha prempuan yang baik, meski dia dari keluarga miskin, mama rasa dia adalah kandidat ibu terbaik untuk anak kamu..." "Dia wanita matre, Ma! Ryu yakin dia sudah di suap Carissa makanya dia mau sewain rahimnya, Ma." "Pritha memang butuh uang untuk menyambung hidupnya, Nak. Tapi mama yakin dia bukan wanita matre seperti yang kamu pikirkan. Sekarang ini, kamu harus memperlakukan Pritha layaknya istri kamu, karena dia juga sah kamu nikahi, Ryuga..." "Tapi, Ma. Tidak semudah itu, Ma..." potong Ryuga lagi. "Kamu harus mencoba, Nak. Nikmati dan jalani takdirmu dengan tenang..." "Ma..." "Sudah, mama mau bicara dengannya, panggil dia..." jawab sang ibu dengan suara yang masih lemah berbisik. "Dia tidak ikut." "Kamu tinggal pritha sendirian di sana, Nak?" "Dia yang tidak mau ikut, Ma..." "Nak, kamu suaminya, meski itu namanya kontrak atau apalah, yang jelas kamu sudah melakukan ijab dan qabul secara sah di depan saksi dan wali, maka sudah seharusnya kamu itu memperlakukan dia selayaknya seorang istri juga, Ryu..." "Mama..." protes Ryuga lagi tapi sang ibu menggelengkan kepala. "Kamu harus berlapang d**a, dengan hadirnya dia hikmah yang di dapat adalah mama bisa ngomong lagi. Dan dia memang telaten merawat mama..." "Namanya juga di bayar, Ma. Wajar dia telaten merawat mama. Mama jangan berlebihan. Dia itu melakukan semuanya demi uang semata, Ma..." "Hust! Jangan begitu. Mama bisa merasakan ketulusan yang dia miliki, Nak..." "Mama, mama harus tau juga persaaan Ryu, Ma..." "Nak, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan..." "Ryu tidak meminta pernikahan ini. Apalagi dengan dia, Ma..." "Nak, memang pernikahan ini di siapkan istrimu. Tapi, kamu saat itu juga punya pilihan untuk pergi toh setelah tahu akan menikah, tapi dengan lantang kamu ucapkan kalimat ijab qabul itu. Dan itu artinya alam bawah sadar kamu juga menginginkan pernikahan ini, Nak..." "Ryu terpaksa, Ma." "Nak, mama gak mau tau, intinya selama kamu ada di sekitar mama, mama mau kamu memperlakukan Prtha selayaknya seorang istri. Temani dia tidur dan ajak dia ngobrol." "Mama!" "Ryuga...mama mohon, Nak. Jangan sampai melihat kalian pisah kamar. Mama tidak bisa melihat hal itu. Kamu harus adil dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan, Nak..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD