Kamar

1112 Words
Pagi itu, kapten Ryu turun dengan koper di tangannya dan sudah mengenakan seragam pilot lengkap, dia jelas terlihat tampan dengan seragam itu. Dan ketampanan itu memang di akui oleh Pritha. Dan dia bersyukur telah menikah dengan pria itu meski hanya kontrak sampai punya anak dan melahirkan. Dan siapappun yang melihat kapten Ryu juga pasti mengakui visual yang di miliki sang kapten. Wajah tampan, tubuh tinggi tegap atletis dan tidak terlalu besar, tapi lengannya memperlihatkan otot seolah lengan itu terasa hangat untuk memeluk. "Walah, gantengnya anak mama..." sambut sang ibu yang sudah duduk di meja makan menanti sang putera turun dari tangga, menaruh koper dan mendekat ke arah sang ibu, menyalam dan mencium dahi sang ibu dengan penuh hormat. Sedangkan Pritha masih sibuk menyusun menu di meja makan. "Pagi, Ma...gimana keadaan mama hari ini? Ada yang terasa sakit, gak?" Tatapnya kepada sang ibu dengan seksama sambil sesekali melirik ke arah sang istri yang mondar-mandir kayak setrikaan, dalam hati dia menggerutu. "Caper banget jadi orang, dari tadi bukannya di taruh di meja, cuma naruh di meja aja sok sibuk, harus banget pas aku turun. Biar apa coba? Pasti tanah liat pakai nyawa satu ini biar aku ngira kalau aku kepancing gitu sama dia yang sok cosplay jadi istri teladan. Fuih! Wanita mah tetap sama, sebelum mendapatkan manis, setelah itu bakalan kelihatan aslinya." Gerutu sang kapten sambil kearah melirik sang istri. "Alhamdulillah, mama sekarang semakin seger banget, apalagi ada mantu mama yang rajin..." sahut sang ibu yang tersenyum cerah melihat puteranya melirik ke arah sang istri, dia dalam hati berbisik. "Hmm...bener iki kata pepatah, witing tresno jalaran soko kulino... awalnya ndak-ndak, nanti lama-lama iya dan iya, hmm, ini sudah mulai awalnya lirik-lirik, kedua lihat-lihat, ketiga sapa-sapa, ke empat ehm...aku punya cucu..." sang ibu tersipu malu sendiri. "Mama kenapa ketawa gitu? Ada yang lucu emang?" Sahut sang putera yang seolah tidak mendengar pujian ibunya tentang istri kontrak yang baru dia nikahi itu. "Itu loh, mama seneng banget lihat istri kamu kok rajin banget..." jawab sang ibu sambil menunjuk ke arah sang istri yang melepas celemeknya dan melangkah mendekat ke arah meja makan sambil membawa dua piring menu. "Halah, Ma. Itu mah pencitraan ala-ala wanita durjana..." sindir sang kapten yang kini juga tiba-tiba menjadi receh kata-katanya, dahulu dia kategori irit bicara dan di lingkungannya terkenal dingin dan cuek. Siapa sangka ternyata kapten Ryu juga seperti layaknya bapak-bapak gosip di warung. "Hustt! Sembarangan kamu, kalau ada ratting bintang, mama kasih bintang sepuluh untuk kategori mantu idaman." Jawaban sang ibu membuat sang kapten tertawa terkekeh sambil megangi perut, dia tidak menyangka ternyata ibunya juga bisa banyak bicara begini, tidak seperti sebelumnya sejak kehilangan sang ayah, ibunya memang memilih menjadi wanita pendiam, berbicara seperlunya dan biasanya lebih memilih menyendiri, makan juga jarang mau bareng begini. Tapi, sejak kehadiran Pritha memang sang ibu berubah, dan hati kecil sang kapten juga mengakui itu. "Ahh! Gak mungkin mama berubah gara-gara tanah liat di kasih nyawa ini. Ya kali dia sehebat itu buat hati seseorang jadi hangat gini. Mustahil banget, emang dia siapa? Cuma bocah desa yang butuh uang dan bertahan melakukan apapun demi uang, to?" Gumamnya dalam hati sambl menaikkan satu bibir atasnya dan mata khas orang yang ngejulid. "Duh, lagi pada ngobrolin apa sih, Mama, Mas Ryu? Kok seru banget, ketawa nya sampai ke dapur loh, sampai simbok heran dengerin ketawa mama..." ucap Pritha yang duduk di depan sang suami, karena sang ibu mertua di barusan kursi pemimpin. "Ini loh, suami kamu, kayaknya sinyal-sinyalnya pengen deket sama kamu terus..." jawab sang ibu dan langsung membuat Pritha merapikan rambut menaruhnya ke belakang telinga sambil memasang aksi malu-malu. "Ihhh! Mama kok tahu? Pritha sih emang udah ngerasa gitu, Mah..." sahutnya sambil menahan tawa, dan langsung membuat kapten Ryu terbatuk. Uhuk! Uhuk! "Apa kata kamu? Beraninya kamu itu bohong ke mama?" Geramnya dengan kedua mata membulat sempurna malah terlihat seperti mau keluar biji mata dari sarangnya. "Loh, siapa yang bohong, Mas? Emang kudu cerita detail ke mama gimana kita di kamar?" Pritha mengerlingkan sebelah matanya sambil memegangi perutnya yang geli seperti di kocok-kocok. "Kamu! Bisa-bisanya ngarang ke mama." "Aku gak ngarang loh, Mas. Yang kamu peluk aku di balkon trus kita ke kamar?" Pritha sengaja menutup bibirnya dan pura-pura seolah kalimat barusan keceplosan, dan seketika wajah kapten Ryu yang putih bersih memerah sambil menoleh ke arah mamanya. "Mah! Jangan percaya ama omongan tanah liat di kasih nyawa satu ini. Jelas-jelas tadi malam aku hampir terjatuh." "Ya mau kamu jatuh atau enggak, kan aku gak tahu tuh trik laki-laki...." Pritha menjeda kalimatnya lalu menoleh ke arah sang ibu seolah meminta suaka, "iya, kan, Mah? Mana kita tahu hampir terjatuh nya mas Ryu itu adalah pancingan biar bisa meluk aku, soalnya abis itu wajahnya memerah trus masuk kamar..." Seketika sang kapten menatapnya dengan sorot mata intimidasi. "Kamu jangan cari suaka ke mama. Mama gak tahu apa-apa tentang kejadian di kamar. Main ngarang aja kamu udha kayak pembohong ulung aja kamu." Geram sang kapten lagi. "Sudah-sudah, mau makan kok malah kalian berdua ini berdebat kayak anak Paud aja. Ya kalaupun kamu meluk Pritha dan bawa ke kamar, itu ya hak dan kewajiban kamu sebagai suami, Ryu. Kenapa harus malu juga sama mama." Jelas sang ibu dan seketika sang kapten merasa seperti putus asa. "Astagaaa....Ma. Bukan gitu, Ryu itu gak sengaja pegang dia karna Ryu hampir terjatuh, Ma." Tiba-tiba Pritha mengibas kan tangan di udara. "Sudahlah, Mas. Ngapain juga klarifikasi, toh isinya kita bertiga doang. Lagian gak lucu tau, di lantai balkon gak ada kulit pisang yang mungkin bisa buat kamu kepleset atau lantai licin lainnya misalnya bertabur sabun. Kalau kamu mau aroma romantis kita begitu, ya aku jabanin aku istrimu juga kok, sah, ya kan, Ma?" Tatap Pritha ke arah sang ibu yang mengangguk setuju. "Iya, Mama setuju sama kaa-kata Pritha. Kamu itu ndak perlu malu—malu sama istri sendiri. Aib kita biar istri yang tahu, tidak masalah, kenapa kamu harus malu coba?" "Mamaaaa...kenapa mama sekarang udah terkontaminasi sama tanah liat di kasih nyawa satu ini?" Geram kapten Ryu menunjuk ke arah sang istri. "Mas, emang kamu bukan dari tanah liat juga? Kamu dari tanah pasir apa? Pasir cor ya, Mas...." Sontak Pritha tertawa terkekeh dan sang ibu juga tertawa melihat menantu nya yang ceria dan positif vibes yang membuatnya merasa tenang meski belum seratus persen pulih. "Astagaa...ada ya, mahluk jadi-jadian kayak kamu, gak ada malu nya di depan orang tua juga..." geram sang kapten dan membuat Pritha terkekeh. "Iya aku gak malu kalau buat kamu bahagia, Mas...." Sontak Pritha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan seketika wajah kapten Ryu memerah mendengarnya. Sang ibu melihat adegan ini denagn wajah yang cerah, seolah dia ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini bersama anak dan mantunya ini
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD