Kamar Hotel 2506

1404 Words
Di saat genting seperti itu, tiba-tiba panggilan ponsel yang biasanya sangat dia benci kini seolah menjadi pertolongan untuk sang kapten dingin itu. “Sorry, istri saya nelfon, bisa kah kamu ninggalin kamar saya? Saya tidak amu ada kesalahpahaman antara saya dan istri saya hanya gara-gara orang yang pernah sekali satu meja dengan saya di club malam…” tatapnya pada Jessica yang langsunng membulatkan matanya. “Capt! Jahat sekali kamu…” ucapnya dengan suara bergetar antara sedih dan malu. “Lebih baik saya jahat kepada wanita lain, daripada saya jahat kepada istri saya. Bukan begitu?” Tatap sang kapten yang langsung berdiri mempersilahkan Jessica keluar dari kamarnya. “Tapi, masiih ada kesempatan untuk kita bisa hang out bareng bukan, Capt?” Tatapnya lagi penuh harap. “Kita lihat saja nanti, saya tidak bisa menjanjikan apapun, oke?” Dan dengan secepat kilat sang kapten mendorong badan Jessica sambil mengangkat panggilan telpon. Dan kali ini dia mau tidak mau harus menjawab dengan suara lembut. “Haloo…” jawabnya lembut membuat suara di seberang terlihat manja. “Mas, kamu kok lama angkat telpon, apa udah tidur?” Tanya suara yang dibuat-buat manja di seberang. “Ehm, kebetulan ada nyamuk jadi aku harus usir dulu, sorry ya?” Jawabnya dan seketika orang yang di seberang terdiam, sampai bunyi suara pintu tertutup. “Hah?! Gak papa kali, Mas. Yang penting kamu sehat aja…” jawabnya dengan wajah sumrngah karena tumben sang suami meminta maaf hanya karena lama menjawab telpon. “Ya emang gak pa-pa, lagian kamu juga ngapain nelpon aku malam-malam, kaya gak ada kerjaan aja!” Ketus sang kapten tiba-tiba jutek membuat sang istri juga merasa heran. “Kalau aku nelpon kamu, artinya aku kangen, Mas…” jawabnya santai. “Dih! Ngapain juga kangen, kaya deket aja kita!” “Loh! Kita itu suami-istri yang sah, gimana gak deket, malah di anjurkan itu bersama-sama kemana-mana, tapi berhubung kamu sekarang kerja, jadi ya aku ga maksain ikut, cuma bener kata mama, Mas. Aku sekali-kali pengen ikut pas kamu lagi kerja.” Tegasnya lagi membuat sang kapten menjawab cepat. “Ngapain juga ngintilin orang kerja. Kaya gak ada kerjaan aja!” Ketus sang kapten lagi. “Aku emang gak ada kerjaan, Mas. Makanya kerjaanku ngintilin kamu…” suara Pritha tertawa tekekeh di seberang. “Berisik!” Ketusnya cepat. “Berisik-berisik tapi kamu diem-diem juga benernya kangen aku kan, Mas?” Tanya sang istri dengan gaya menggoda. “Dih!! Najis.” Sahutnya cepat. “Duh, maaciw loh, Mas. Udah kangen juga, makanya aku inisiatif nelpon kamu dulu, aku tahu kamu bakalan gengsi buat nelpon dluan dan bilang kangen, makanya aku yang wakilin…” “Heh! Siapa juga yang bilang kangen, amit-amit kangen sama kamu!” Geramnya lagi. “Nih, buktinya kamu gak matiin panggilan, artinya kamu diem-diem juga gak bisa tidur karena belum denger suara aku, kan? Sama, Mas. Aku juga makanya aku telpon kamu….” “Dasar stress!” KLIK! Tanda panggilan berakhir, dan setelah itu sang kapten melemparkan ponselnya ke atas kasur sambil menggerutu. “Dasar mahluk aneh, pede banget dia bilang gua kangen. Dih! Siapa juga yang kangen ama tanah liat di kasih nyawa begitu.” Gerutu sang kapten lalu dia menghempaskan badannya ke atas kasur empuk. “Haishhh! Kenapa sih gua jadi di kelilingi orang-orang menyebalkan belakangan?” Keluh sang kapten lagi sambil mengacak rambutnya. Ddrrrttt….ddrrttt…. Ponselnya kembali bergetar. “Ya Tuhaaan!! kenapa ga sudah-sudah sih?” Geramnya lalu dengan malas dia meraih ponselnya. Dahinya bertaut, karena itu adalah salah satu cabin crew nya. “Kenapa, Dew?” Sapa sang kapten langsung ke inti pembahasan. “Capt, bisa bantuin saya, Capt?” Tanya suara di seberang terdengar merintih kesakitan. “Loh! Yang lain kemana? Gak sama kamu?” Tanya sang kapten lagi. “Saya sudah hubungi mereka, Capt. Tapi gak ada yang jawab, Capt. Please bantu saya, Capt….” Jawabnya dengan suara lirih seolah akan mati segera. “Kamu kamar berapa, lantai berapa?” Tanya sang kapten lagi dengan nada kawatir. “Lantai lima, 2506, Capt…” suara itu semakin lemah, dan akhirnya sang kapten meraih jaketnya dan bangkit dari kasur. “Kamu tunggu di sana.” Tegasnya lagi dengan nada kawatir, maklum saja Dewi adalah salah satu pramugari yang dia bawa, meskipun dia baru beberapa kali membawa Dewi terbang, tapi baginya siapapun awak kabin yang bersamanya dia harus tanggung jawab. Klik! Suara panggilan terputus dan sang kapten menutup pintu kamar lalu mengantongi kunci kamar, dia melangkah dengan cepat menyusuri lorong menuju lift. Tak membutuhkan waktu lama,dia sudah sampai di lantai 5 kamar 2206 setelah meminta bantuan petugas hotel untuk menuju kamar itu. Tok! Tok! Tok! Dew! Buka pintunya, Dew…” panggil sang kapten tapi di dalam tidak ada respon suara. Lalu sang kapten segera menhubungi nomor yang tadi di gunakan untuk menghubunginya, tapi sayangnya tak menjawab. Tak kehabisan akal,sang kapten meminta Bantuan petugas hotel dengan meminjam kunci induk hotel dan akhirnya berhasil membuka pintu kamar itu. Dan tampak di sana, Dewi dengan berpakaian basah berada di lantai, seperti mau sekarat, nafasnya satu-satu. “Dew! Kamu kenapa?” Tanya sang kapten mendekat ke arah pramugari yang tergeletak di lantai. “S-saya alergi dingin, Capt. Dan obat alergi saya ada di lemari atas….”desahnya dengan nada tersengal seolah kesulitan untuk berbicara. “K-kamu alergi dingin? Sejak kapan?” Tanya sang kapten sambil berdiri dan mencari-cari obat yang di maksud sang pramugari. “Di sebelah mana, kok gak ada?” Tanya sang capten lagi. “Capt, sebelah pailng atas, Capt…tolongg….” Bisiknya dengan suara lirih. Kapten Ryu tampak mencari obat yang di maksud dan akhirnya dia menemukan botol putih kecil dan langsung membawanya. Ke tempat sang pramgari berada. Sayangnya begitu botol di buka, isinya kosong. “Dew! Ini kosong, obat kamu abis, gimana ini?” Tanya sang kapten sedikt panik. “Saya panggil ambulan ke rumah sakit, ya?” Imbuh sang kapten lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan langsung menghubungi rumah sakit. Tapi, baru saja sang kapten menekan tombol nomor di ponselnya tangan sagn pramugari dengan sigap menahannya. “Capt, percuma, rumah sakit tidak akan tahu, dan s-saya tidak akan tertolong…” “Setidaknya ada tindakan dari team medis, mereka lebih tahu gimana kondisi kamu.” Tegas sang kapten lagi menatap ke arah pramugarinya. “Jangan, Capt. Kalau kapten tidak keberatan, bantu saya saja, Capt…”bisiknya parau. “Apa yang bisa saya bantu?” Tatap sang kapten dengan wajah serius. “Bantu buka pakaian saya, dan angkat saya ke atas kasur, lalu peluk saya, saya hanya butuh kehangatan saja, Capt…” bisiknya dengan wajah memelas, sang kapten menatap ke arahnya dan melihat bibirnya yang sudah memucat dan wajahnya juga. “Sebentar, saya minta bantuan dulu…” tegas sang capten. “Capt, jangan. Saya tidak mau masalah kesehatan saya di ketahui oleh orang lain apalagi awak kabin, Capt. Karena kesempatan mereka untuk tahu kelemahan saya sudah berakhir, hanya kapten yang peduli dengan saya, dan hanya kapten yang berhak untuk membantu saya…” bisiknya lagi. “Saya bukan team medis, makanya saya hubungi rumah sakit saja, nanti ambulance yang akan datang, saya janji tidak ada awak kabin yang tahu tentang sakitnya kamu.” Tegas sang kapten lagi lalu menghubungi ambulance di Bali. “Capt! Kenapa sih melakukan hal mudah saja susah, saya hanya butuh bantuan kapten buat meluk saya, Capt.” Bisiknya dengan suara parau. “Iya, saya juga tidak mau mengambil keputusan yang berkaitan dengan nyawa. Makanya jalan terbaik adalah untuk menghubungi petugas medis langsung, kamu jangan kawatir, tidak akan ada yang tahu soal penyakit kamu.” Tegas sang kapten lagi, dan tersirat jelas kekecewaan di wajah Dewi, pramugari yang baru beberapa kali terbang bersma sang kapten. “Capt, boleh sekrang bantu saya buat lepasin baju dulu kalau begitu, ini basah dan sangat dingin…” ucapnya setelah beberapa lama terdiam dengan kalimat yang di lontarkan sang kapten.. “Hmm, kenapa kamu mandi malam-malam kalau sudah tahu kamu alergi dingin?” Tanya sang kapten dengan dahi bertaut tapi tidak langsung bergerak mengganti pakaian, yang di lakukan sang kapten justru mengambl handuk dan kimono untuk menutupi tubuh molek itu terlihat jelas. “S-saya, tidak kuat minum alkohol, Capt. Dan kami tadi party, tidak enak kalau saya tidak minum juga,…” bisik Dewi lagi membuaut sang kapten mengehla nafas panjang. Sementara itu di kamar yang berbeda, tampak co-pilot sedang bersama seorang pramugari di dalam kamar memadu kasih setelah mabuk berat. Suara desahan itu begitu menggema mengisi seluruh kamar, dari berbagai pose mereka ber atraksi. Begitulah sebagian besar sisi gelap dunia penerbangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD