100 Miliar

416 Words
"Lihat ini! Mampu kamu? Kerja seumur hidup dan tujuh turunan tujuh pendakian juga gak bakalan kamu bisa mengganti jumlah ganti rugi kalau kamu batalin." Tegas Carissa lagi dan dia menyodorkan nominal ganti kerugian jika terjadi pembatalan kontrak. "Seratus Miliar?" Pritha membaca dengan perlahan nominal ganti rugi, sampai dia tersadar dengan kedua mata membulat sempurna dan mulut terbuka lebar. "Haaaah? Ganti rugi seratus miliar? Bu! Ini tidak adil." "Di dunia ini memang serba gak adil. Kenapa prempuan harus hamil dan melahirkan. Lagian repot banget harus punya anak." Geram Carisa lagi. Sedangkan Prita tampak lemas dan terjatuh di lantai. Dia bahkan belum pernah melihat uang satu miliar apalagi seratus miliar. "Sudah, karena kamu tidak bisa melihat baju, aku akan minta orang kirim langsung kesini, nanti malam adalah pernikahan kalian secara agama. Tapi ingat, perjanjian ini hanya boleh di ketahui antara aku dan kamu, kalau ada orang lain tahu maka kamu akan mendapat denda sepuluh miliar, termasuk Ryu. Dia tidak boleh tahu tentang adanya perjanjian ini, paham?!" Ancamnya dengan kedua mata membesar. "Trus, bagaimana kalau bapak nanya, Bu?" "Ya bilang saja, kamu emang sudah lama suka sama bapak dan kamu rela menjadi wanita sewaan. Simple kan?" Pritha tertunduk lesu. "Jadi apa yang harus saya lakukan nantinya setelah menikah siri, Bu?" "Oh, ya, untung kamu nanya..." Carissa terlihat berfikir sejenak. "Kamu harus melayani suami saya sebagaimana dia ingin di layani. Dan kamu harus segera hamil." "Bu!" "Ingat! Dalam dua tahun tidak hamil, maka kamu harus mengembalikan uang senilai lima puluh miliar dan memperpanjang kontrak, paham?!" "Bu, kenapa semuanya miliaran? Uang seratus juta saja saya belum pernah lihat, Bu." Tegas Pritha merasa perjanjian tidak masuk akal. "Yasudah, itulah gaji kamu selama mengandung anak punya suami saya." Tegasnya semena-mena. "Tapi, Bu. Anak kan titipan Allah, bagaimana saya bisa memastikan?" "Makanya kamu ittu pakai akal kamu buat berfikir bagaimana caranya cepat hamil. Ke dokter lah!" Tegasnya lagi. "Pokoknya, selama terikat kontrak, perlakukan Ryu sebagaimana selayaknya suami, dan kamu tetap urus wanita tua itu." Ucapnya kemudian lalu dia kembali menambahkan. "Gini deh, kamu nanti saya kasih tempat tinggal terpisah jangan di rumah ini. Saya pusing melihat wanita tua itu terlentang di kamar..." tegasnya lagi. "Bu, bagaimana kalau bapak tidak setuju dengan semua ini?" "Disitu lah otak kamu harus berfikir dan bekerja bagaimana membuat suami saya setuju. Kalau sempat suami saya menolak, maka siap-siap kamu bayar denda. Udah deh! Siapin diri kamu aja bentar lagi datang orang untuk anterin gaun pengantin kamu. Aku mau bersiap-siap dulu..." ucapnya dengan santai lalu meninggalkan Pritha yang terdiam mematung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD