Sementara di dalam kamarnya, Berliana langsung menelepon Oliver. Dalam tiga kali deringan, panggilan itu terangkat. "Liana. Akhirnya kamu telepon juga, aku khawatir banget karena dari tadi kamu nggak angkat telepon dan baca pesanku," suara Oliver terdengar lega sekaligus cemas. "Maaf. Aku udah buat kamu khawatir. Tadi aku nggak pegang hape, tapi sekarang aku sudah ada di rumah," sahut Berliana pelan. "Kamu tadi ke mana sampai nggak pegang telepon?" tanya Oliver penasaran. Berliana memejamkan mata sejenak. "Tadi aku mengalami musibah di kereta waktu pulang dari kantor Om Davian." "Musibah apa? Tapi kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Oliver dengan nada mendesak. Berliana terdiam sesaat sebelum menjawab jujur. "Aku dilecehkan oleh pria asing di kereta—" "Dilecehkan?! Cepat beritahu aku

