Bastian tidak bergerak. Pria itu masih mencondongkan tubuhnya, dagunya nyaris menyentuh bahu Aira, sementara tatapan matanya yang gelap dan tajam terkunci pada halaman buku medis yang terbuka lebar. MISOPROSTOL. Satu kata. Sepuluh huruf. Sebuah vonis mati bagi harapan-harapan kecil yang belum sempat tumbuh. "B-Bas..." Aira mencoba bersuara, namun tenggorokannya tercekat. Suaranya pecah, rapuh seperti kaca yang diinjak. Ia memberanikan diri berputar perlahan, menghadap langsung kepada pria yang selama ini ia puja sebagai dewa pelindungnya. Bastian menegakkan tubuhnya. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Tidak ada rona bersalah, tidak ada kegugupan. Hanya ada ekspresi datar yang dingin, seolah ia sedang menatap laporan keuangan yang sedikit keliru, bukan istrinya yang baru

