Hari demi hari berguguran layaknya dedaunan mati di tengah badai musim gugur. Waktu seakan kehilangan maknanya bagi Bastian Elvano. Siang dan malam melebur menjadi satu rutinitas kelam yang hanya digerakkan oleh satu detak jantung yang berjarak entah berapa kilometer darinya. Luka tembak di bahu kirinya telah mengering, meninggalkan parut daging yang menonjol, sebuah pengingat permanen akan kekalahannya malam itu, sekaligus simbol dari sumpah berdarah yang ia patri di dalam tulang rusuknya. Selama berminggu-minggu, Bastian memainkan perannya dengan kesempurnaan seorang aktor peraih piala Oscar. Ia membiarkan Haryo Cakradara mengambil alih kendali Pradipta Group, ia menghadiri rapat-rapat pemegang saham dengan wajah datar, dan ia menelan setiap titah sang kakek tanpa melontarkan satu pun

