Bab 23. Tandai Aku

1694 Words

“Kangen ... maksudku A kangen." Satu kata itu meluncur begitu saja. Namun, hanya dalam benak Hanami. Lidahnya mendadak kelu saat menyadari puluhan pasang mata wanita di ruang tunggu sedang menatapnya dengan api permusuhan. Gengsi Hanami setinggi gunung, dan dia tidak akan membiarkan wanita-wanita itu menang karena melihatnya bertingkah lemah. Hanami berdehem, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berisik. "Meadow bilang kau belum makan siang," ucapnya datar, matanya melirik plastik di tangannya seolah itu hanyalah beban yang ingin segera ia singkirkan. "A juga... dia bilang ingin makan masakan kantin kampus bareng Ayahnya." Hanami merutuki dirinya sendiri. Menggunakan A sebagai tameng adalah cara paling pengecut, tapi hanya itu yang bisa menyelamatkannya dari tatapan intens Jasson.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD