Bab 13. Geometri Perasaan

1184 Words

Malam di Jakarta selalu membawa hawa lembap yang menyesakkan, namun di dalam apartemen kecil itu, udara terasa jauh lebih berat. Hanami masih berdiri di dekat meja makan, menatap dua kantong plastik besar yang diletakkan Jasson dengan napas yang masih sedikit tersengal. Jasson baru saja pulang. Keringat membasahi dahi dan lehernya, menciptakan jalur-jalur mengkilap di atas kulit putihnya yang kini sering terpapar matahari bengkel. Kaos abu-abunya menempel di punggung, memperlihatkan betapa lebar dan kokohnya bahu pria itu sekarang. Tidak ada lagi aroma parfum mahal yang dulu selalu menjadi ciri khasnya. Kini, yang tertinggal adalah aroma oli, logam, dan keringat maskulin yang entah bagaimana justru terasa sangat... nyata. "Kenapa beli sebanyak ini?" suara Hanami memecah kesunyian, ia m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD