Wilder berjalan melewati Winona seolah wanita itu hanyalah pajangan dinding yang tidak terlihat. Tidak ada lirikan nakal, tidak ada seringai menggoda, apalagi kata-kata provokatif. Wilder langsung melangkah menuju Jasson. Setelah itu, Wilder berbalik dan berjalan menuju bar, memesan whiskey tanpa sekalipun menoleh ke arah Winona yang masih mematung di tempatnya. Winona mengernyitkan dahi, matanya mengikuti punggung Wilder yang menjauh. Biasanya, pria itu akan melakukan segala cara untuk memancing emosinya, entah itu memegang rambutnya, membisikkan kata-kata kurang ajar, atau sekadar menghalangi jalannya. Tapi tadi? Wilder bahkan tidak melirik ujung sepatunya. “Ada apa dengan dia?" batin Winona heran. Rasa lega yang seharusnya ia rasakan justru berganti dengan rasa aneh di ulu hatinya—se

