Beberapa hari berlalu, Arta terlihat mengalami perubahan sikap terhadap Arthur. Meski belum sepenuhnya terbuka, tapi dia sudah tak lagi menolak keberadaan pria yang sebenarnya adalah ayahnya itu ada di sisinya. Karena dia terus kalah dalam permainan apa saja yang mereka jadikan taruhan. "Hari ini kalian mau main apa lagi?" kata Lintang berkacak pinggang, sudah beberapa hari pula dia ditugaskan membeli berbagai permainan untuk kedua 'ayah-anak' itu. Arthur tersenyum, dia lalu melirik Arta. "Menurutmu apa?" tanyanya. Arta mendengus, dia selalu kalah dalam permainan apapun. Padahal dia sendiri yang memilihnya. "Nanti saja kalau aku sudah sembuh!" ujarnya ketus. Arthur merapatkan bibirnya menahan tawa geli, begitu juga Lintang. "Baik, sepertinya untuk sekarang dan seterusnya sampa

