Arthur berlutut di depan batu nisan Hazen, melihat foto gadis itu yang tersenyum lebar dan ceria, dan rambutnya yang keriting mengembang alami membingkai wajahnya yang mungil. Teringat pertemuan pertamanya ketika Hazen menjemputnya di bandara, Arthur tak menyangka sama sekali gadis bertubuh ramping dan mungil itu adalah seorang agen. "Kau ingat pertemuan pertama kita?" ucap Arthur tersenyum, "sikapmu menyebalkan sekali, aku hampir tidak mau memiliki partner sepertimu!" Arthur mengenang semua kebersamaan mereka berdua, termasuk saat bermain bertiga dengan Raffa. Air matanya pun jatuh berlinang. "Dia membenciku, Hazen, dia berpikir aku sudah mengkhianatimu dengan Lintang saat ini, dan aku merasa semakin jauh menjangkau kepercayaannya padaku!" ungkapnya terisak lirih. "Tolong bantu aku,

