"Kenapa?! Emang bener kan, Sayang. Kalau misalnya mereka lebih beruntung soal anak daripada kita?" Amarah Alena meledak, matanya sudah memerah. Ia bangkit dari sofa, berdiri menghadap Darren dengan tangan mengepal. Tontonan di layar sudah tidak lagi penting. "Aku muak banget denger pertanyaan itu! MUAK!" Darren menghela napas panjang, mencoba tetap tenang meski urat di lehernya mulai menegang. Ia juga berdiri, sekarang mereka berhadapan seperti dua petinju di atas ring. "Saya tahu kamu muak. Saya juga muak, Alena. Tapi saya tidak suka kamu berkata seperti itu tentang Keandre dan Sonya." "Aku cuma bilang fakta!" sergah Alena, air matanya sudah mulai jatuh. "Mereka hamil di luar nikah, tanpa rencana, tanpa persiapan. Dan kita? Kita sudah merencanakan semuanya dengan matang, kita sudah beru

