“Aku hamil.” Itu kalimat pertama yang lolos dari mulut Sonya nadanya pelan dan tangannya gemetar, seolah kata-kata itu sendiri terlalu berat untuk diucapkan. Ia menggigit bibirnya, kedua bahunya naik turun menahan napas yang tidak stabil. Ada ketakutan, rasa frustasi, dan kepanikan yang saling bertabrakan di dalam matanya. Keandre tidak langsung bereaksi. Ia hanya berkedip, mematung, sebelum akhirnya meraih testpack yang Sonya sodorkan. Tangannya sedikit bergetar juga. Mereka berdua masih berada di kamar villa yang berantakan akibat semalam dengan gelas bekas minuman berserak, pakaian tercampak di lantai, dan bau alkohol samar yang masih tersisa. Sonya menarik rambutnya kasar, berjalan maju-mundur sebelum akhirnya duduk di sisi ranjang yang lainnya. “Kita ngelakuin itu selalu tanpa peng

