Seminggu berlalu dengan ritme yang sama setiap pagi, Alena datang ke meja kerjanya, dan di sana selalu ada kiriman baru. Buket mawar putih hari Senin, lily pink hari Selasa, salad ayam panggang dari restoran favoritnya hari Rabu, sekotak macaron rasa pistachio hari Kamis. Semua diletakkan rapi di atas meja sebelum ia datang, tanpa nama pengirim, hanya kartu kecil bertulisan tangan yang sama, kata-kata manis pendek yang semakin membuatnya risih. Awalnya ia menganggapnya lucu, lalu penasaran, tapi kini sudah masuk kategori keterlaluan. Ia tak suka perasaan diawasi, apalagi di tempat kerja yang seharusnya jadi zona aman. Setelah hari Jumat menerima buket peony merah muda yang terlalu mencolok hingga Kania dan rekan kubikel lain mulai bergosip, Alena memutuskan untuk bertindak. Setelah m

