Udara kamar yang sejuk berpadu dengan aroma lembut parfum Alena yang tersisa di seprai sutra. Darren baru saja masuk, wajahnya tampak lelah namun lebih rileks dibandingkan beberapa hari terakhir. Ia berdiri di depan cermin rias tinggi, jemarinya dengan cekatan melonggarkan dan melepas dasi bermereknya yang berwarna abu-abu tua. "Kamu pulang lumayan malam hari ini, Om." Alena berujar tanpa mengangkat pandang dari novel yang sedang dibacanya. Ia bersandar nyaman di tumpukan bantal, kaki bersilang di atas selimut. "Rapat dengan tim asuransi molor, Sayang. Maaf ya," jawab Darren sambil meletakkan dasi itu di atas meja rias. Matanya beralih ke beberapa tas belanja bermerek yang masih tergeletak di sofa sudut, kardus Hermes yang ikonik dan kantong kertas tebal dari toko mainan mewah. "Kamu h

