Mendengar penuturan Keandre, Alena terkekeh pendek, tanpa tawa. “Kenapa nggak bisa? Itu kamu beli waktu masih sama aku. Kamu pakai uang, waktu, perhatian yang harusnya buat pacar kamu, tapi malah kamu lempar ke orang lain.” Ia menatapnya lebih tajam. “Emang kalau tas itu dibakar, sakit aku hilang? Nggak, kan? Tapi setidaknya aku tahu kamu beneran tanggung jawab sama kesalahan kamu.” Keandre tertunduk, kedua tangannya bergetar tipis. Darren memandang anaknya dengan tatapan memberi isyarat agar tidak menghindar dari konsekuensi. Rafif mengusap kening, campuran marah dan prihatin merayap di wajahnya. Amel menautkan kedua tangan, menunggu apakah Keandre berani menanggung permintaan itu atau justru mundur lagi. Udara tetap menegang, seakan ruangan itu menunggu putusan akhir dari seseorang ya

