Bunyi klik di pintu yang dikunci terdengar jelas di ruangan yang hanya diisi suara televisi. Senyuman Darren semakin melebar, dan irisnya yang abu-abu itu berbinar dengan sesuatu yang membuat Alena ingin membalikkan badan dan berlari keluar, tapi kakinya malah membawanya mendekat. Er, baiklah Alena akui ia mau tapi malu. Darren tidak bisa merebah dengan tenang. Punggungnya yang tadinya bersandar di tumpukan bantal kini terangkat, ia duduk tegap di atas kasur, kedua tangan di pangkuan, jari-jarinya mengetuk-ngetuk pahanya dengan ritme yang tidak menentu. Matanya tidak lepas dari pintu, menunggu istrinya kembali. Ketika Alena datang, langkahnya sengaja diperlambat, ia hanya bisa terkikik melihat ekspresi suaminya yang sudah sangat tidak sabar, padahal belum pulih sepenuhnya. Tangan kana

