Selesai sarapan, suasana meja makan berubah sunyi. Tadi mereka sempat bercanda kecil, tapi kini Darren tak lagi menyentuh cangkir kopinya. Ia hanya menggulir gelas itu dengan ujung jarinya, menatap Alena yang sejak tadi menunggu dengan penasaran. “Cepetan, Om. Mau ngomong apa?” desak Alena akhirnya. Suaranya terdengar lebih kecil daripada biasanya. Darren menghela napas panjang, seperti menimbang setiap kata sebelum keluar. “Oke,” ujarnya pelan, “tapi saya harap kamu jangan terlalu panik.” Alena menegakkan punggungnya. Tangan mungilnya meremas ujung baju tidur yang masih ia kenakan. “Keandre…” napas Darren terhenti sebentar, matanya memejam sejenak, “…menghamili Sonya. Dan usia kandungannya sudah enam minggu.” Sunyi. Benar-benar sunyi. Alena hanya membeku selama beberapa detik, sepe

