Langkah Jayne terasa berat saat ia dipanggil maju oleh hakim. Ruang sidang yang sejak tadi dipenuhi bisik-bisik seketika hening, hanya suara ketukan palu kecil yang menandai awal kesaksiannya. Blitz kamera wartawan yang ditempatkan di pojok ruangan beberapa kali menyala, membuat Jayne semakin gugup. Elang yang duduk di barisan kursi pengunjung mendongakkan kepala, menatapnya tajam, seolah mengirimkan kekuatan hanya lewat tatapan. Jayne sempat menoleh sekilas, dan ia menangkap anggukan kecil dari Elang. Sekuat tenaga ia mencoba menarik napas dalam, menenangkan detak jantung yang terasa seperti palu godam menghantam dadanya. Hakim mempersilakan Jayne duduk di kursi saksi. Dari jarak dekat, ia bisa merasakan pandangan Reno yang membakar. Lelaki itu duduk dengan rahang mengeras, kedua tangan

