(++) Rumah yang Tenang.

1035 Words

Keesokan paginya, saat mentari baru menembus tirai, Jayne sudah bangun lebih awal. Ia berdiri lama di balkon lantai dua, menatap rumahnya sendiri yang berdiri tepat di sebelah rumah Elang. Rumah itu sempat terasa kosong, dingin, bahkan mengerikan setelah semua yang terjadi dengan Reno. Namun sekarang, dengan Reno yang sudah dipenjara, mungkin sudah waktunya ia kembali. Elang yang baru keluar dengan rambut agak acak dan kaus putihnya menoleh ke arahnya. “Pagi. Kamu nggak bisa tidur?” tanyanya lembut. Jayne tersenyum tipis. “Tidur, tapi bangun terlalu cepat.” Elang menatapnya sejenak, seakan bisa membaca isi hatinya. Ia tidak bertanya lebih jauh, hanya mendekat sambil menyerahkan secangkir kopi hangat. “Kalau butuh cerita, aku ada di sini,” ucapnya singkat. Jayne menerima kopi itu, jantu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD